PEMERIKSAAN PENDENGARAN BAGI BAYI PREMATUR

SCREENING GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK DENGAN RIWAYAT PREMATUR
Dr Widodo Judarwanto pediatrician

image
Komunikasi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia untuk dapat mengungkapkan konsep pikiran, emosi dan tingkah laku. 2 hal penting yang harus dilakukan untuk dapat berkomunikasi adalah dengan berbicara dan berbahasa. Faktor penting yang erat kaitannya dengan proses berbicara adalah pendengaran. Pendengaran adalah fase awal manusia untuk selanjutnya dapat menirukan proses berbicara. Gangguan mendengar atau ketulian merupakan suatu kecacatan yang sulit diketahui sejak dini. Bayi prematur termasuh salah satu faktor resiko karena berbagai keadaan dan tindakan selama dilakukan perawatan di NICU. Untuk itu dibutuhkan suatu cara pemeriksaan yang mudah dan cepat dilakukan sehingga kelainan tersebut dapat dikenali sejak dini.
Gangguan pendengaran atau tuli sejak lahir akan menyebabkan gangguan perkembangan bicara, bahasa dan kognitif. Bila gangguan pendengaran terlambat diketahui tentu hambatan yang dihadapi akan lebih besar. Diagnosa gangguan pendengaran konginetal (bawaan) seringkali terlambat. Keterlambatan diagnosis pada tuli derajat sedang hingga berat dapat terjadi sampai usia 2, 5 tahun karena bayi dan anak tersebut mampu memberi reaksi yang serupa dengan bayi dan anak normal terhadap bunyi-bunyian yang keras, suara tawa dan babble . Pada anak yang tuli kedua telinganya, hanya 49 % orangtua yang mencurigai adanya gangguan pendengaran, sedangkan pada gangguan pendengaran ringan sampai sedang atau satu telinga persentase orangtua yang waspada hanya 29 %.
Dampak gangguan pendengaran dapat dicegah atau dibatasi bila gangguan pendengaran dikenali sejak awal melalui program deteksi dini. Rangsangan pendengaran penting pada masa 6 bulan pertama kehidupan untuk menjamin perkembangan bicara dan berbahasa. Gangguan pendengaran yang terdeteksi dini, kemudian memperoleh habitasi yang memadai akan memungkinkan penderita untuk mencapai kemampuan berkomunikasi yang optimal sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungannya dan ikut serta dalam pendidikan umum yang normal.image
Pada pasien gangguan pendengaran yang terdeteksi awal kemudian mulai memperoleh intervensi pada usia kurang dari 6 bulan, selain akan mempunyai kemampuan wiacara yang lebih baik, ternyata juga menunjukkan tampilan yang lebih baik selama pendidikannya di sekolah maupun produktifitasnya di lingkungan kerja dibandingkan pasien gangguan pendengaran yang terdeteksi lambat dan memperoleh intervensi pada usia lebih dari 6 bulan.
Screening pendengaran mulai diperkenalkan oleh Marion Downs pada 1970an walaupun belum melembaga. Kemudian pada 1980an, screening pendengaran dikelola secara institusional. Pada 1982, American Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) merekomendasikan pelaksanaan identifikasi bayi yang beresiko mengalami gangguan pendengaran, melakukan screening, dan melakukan evaluasi audiologi lanjutan sampai diagnosa pasti bisa ditegakkan. Baru pada tahun 2000, screening pendengaran dilakukan secara universal pada semua bayi baru lahir.

Dari penelitian, 50-75 % dari bayi dengan tuli saraf berat dan sangat berat mempunyai satu atau lebih faktor risiko spesifik. Tetapi dari seluruh bayi menderita tuli kedua telinganya, ternyata ada sebanyak 50 % yang tidak mempunyai faktor risiko.

Berkaitan dengan hal tersebut, upaya medeteksi kasus tuli di sejumlah negara maju telah dimulai sejak bayi baru lahir melalui program Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) yang ditujukan terhadap semua bayi baru lahir dengan atau tanpa faktor risiko.

Adapun anjuran yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Pada semua bayi baru lahir dilakukan screening pendengaran menggunakan pemeriksaan fisiologis yang dilakukan pada:
  • Bayi lahir di RS: pada saat masih dirawat.
  • Bayi lahir di fasilitas pelayanan persalinan lain: sebelum usia satu bulan.
  • Bayi dalam perawatan NICU: sebelum keluar dari perawatan.
  • Bayi yang tidak lulus screening, perlu pemeriksaan kembali sebelum usia 3 bulan.
  • Pada bayi yang dipastikan menderita tuli permanen mulai dilakukan rehabilitasi sebelum usia 6 bulan.
  • Pada bayi yang lulus screening tetapi mempunyai faktor risiko untuk gangguan auditorik diperlukan pemantauan medis secara berkelanjutan serta pemantauan perkembangan wicara.
  • Keluarga berhak memperoleh informasi mengenai pilihan tindakan serta berhak menentukan dan memberi ijin atas intervensi yang hendak dilakukan.

Faktor resiko pada bayi baru lahir yang direkomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran adalah sebagai berikut:

  • Riwayat keluarga gangguan pendengaran sensorineural (tuli saraf) yang permanen pada masa kanak.
  • Kelainan bentuk wajah atau tengkorak, termasuk kelainan morfologi bentuk telinga/liang telinga.
  • Infeksi konginetal yang berhubungan dengan tuli saraf (toxoplasma, rubella, sitomegalovirus, herpes dan sifilis )
  • Gambaran fisik yang merupakan bagian dari suatu sindrom yang sering kali disertai tuli saraf (contoh: Down Syndrome, Usher Syndrome, Waardenburg Syndrome)
  • Berat lahir kurang dari 1500 gram.
  • Kondisi yang memerlukan perawatan intensif (NICU) lebih dari 48 jam.
  • Kadar bilirubin yang tinggi (kadang memerlukan transfusi tukar), pemakaian ventilator.
  • Infeksi sesudah lahir yang berkaitan dengan tuli saraf misalnya: radang selaput otak karena bakteri.
  • Penggunaan obat-obat ototoksik dalam waktu lebih dari 5 hari.


image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s