Benarkah Aku Tidak Alergi Makanan ?

Kontroversi Alergi :

Benarkah Aku Tidak Alergi Makanan ?

Banyak kasus penderita alergi sering frustasi karena hilang timbulnya keluhan dan tanpa diketahui secara pasti penyebabnya.  Selama ini sebagian besar penderita atau bahkan Dokter masih menganggap bahwa penyebab utama debu dan dingin. Tetapi anehnya  keluhan alergi hanya timbul pagi dan malam hari, justru lebih berat saat siang hari. Justru saat pagi debu sedikit dan siang hari debu lebih banyak. Selama ini alergi dianggap karena dingin atau hujan. Tetapi juga aneh, saat siang hari di kantor ata saat tidur siang AC nya sangat dingin keluhan alergi tiba-tiba hilang dan napas menjadi lega. Sehingga berbagai dokter telah dikunjungi namun seringkali semakin bingung karena pendapat berbagai dokter tersebut tidak ada yang sama. Seorang dokter mengatakan makanan tidak berkaitan dengan berbagai gejala yang ada. Tetapi kelompok dokter lain mengatakan bahwa makanan berperanan dengan gangguan yang ada.

Hal ini wajar tejadi karena sumber kontroversi tersebut sampai saat ini adalah penentuan diagnosis alergi makanan dan banyak faktor yang berpengaruh. Untuk memastikan makanan sebagai penyebab alergi adalah dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bukan hanya perbedaan pendapat antara klinisi, hasil penelitian tentang alergi makanan berkaitan dengan manifestasi berbagai organpun seringkali tidak sama karena sebagian peneliti mengandalkan diagnosis bukan dengan diagnosis klinis tetapi dengan pemeriksaan laboratorium atau tes alergi. Bila kesalahan dasar dalam memastikan penyebab alergi makanan ini terjadi maka perbedaan pendapat dan kontroversi tersebut akan terjadi semakin besar dalam penanganan berbagai kasus alergi.

Ilustrasi Kasus :

  • Berbagai klinisi dan penelitian banyak yang mengungkapkan bahwa alergi berkaitan dengan berbagai gangguan tubuh dan gangguan perilaku. Hal ini terjadi karena klinisi dan dokter tersebut menentukan tanda dan gejala alergi dengan melakukan diagnosis klinis dengan eliminasi provokasi. Sedangkan dokter lain dan peneliti lain mengungkapkan bahwa alergi tidak berkaitan dengan berbagai manifestasi yang ada karena menggunakan dasar laboratorium atau tes alergi.  Padahal dalam menentukan diagnosis alergi makanan yang paling penting adalah diagnosis klinis bukan laboratorium atau tes alergi.
  • Seorang bayi yang sudah minum susu sapi selama 6 bulan tidak ada manifestasi alergi tetapi saat kemudan divonis alergi susu sapi. Selanjutnya setelah 6 bulan orangtua frustasi mencari berbagai susu yang cocok karena susu yang paling amanpun ternyata menimbulkan alergi. Kasus ini terjadi karena klinisi hanya memfokuskan penyebab alergi karena alergi susu sapi, padahal banyak faktor lain juga mempengaruhi timbulnya alergi seperti infeksi virus atau makanan lain yang dikonsumsi. Dan ternyata memang penderita tidak mengalami alergi susu sapi ketika dilakukan eliminasi provokasi susu sapi.
  • Seorang dokter pernah diklaim oleh dokter lainnya ketika menulis bahwa tes alergi tertentu tidak direkomendasikan dan tidak akurat sebagai pengobatan atau diagnosis. Bahkan perbedaan pendapat tersebut berpotensi akan memasuki meja hijau, tetapi dengan komunikasi ilmiah yang dilakukan ternyata perbedaan pendapat tersebut dapat diperbaiki.
  • Seorang dokter ahli dipermasalahkan oleh sebagian dokter ahli lainnya mengungkapkan berbagai tanda dan gejala alergi yang ada berkaitan dengan makanan. Padahal ungkapan tersebut disampaikan ditunjang dengan fakta ilmiah dari berbagai penelitian yang ada. Akhirnya perbedaan pendapat  ini masuk dalam ranah komite etik profesi.  Dalam pertemuan tersebut juga masih terjadi perbedaan pendapat tajam. Seorang nara sumber bidang yang berkopeten mengatakan bahwa bisa saja pengaruh histamin dapat menganggu berbagai organ tubuh lainnya meski insidennya tidak banyak. Tetapi yang pihak lain bependapat bahwa berbagai pakar dari berbagai keahlian tidak setuju dengan berbagai tanda dan gejala tersebut dikaitkan dengan alergi makanan. Tetapi akhirnya salah satu pihak mengalah untuk tidak mempanjang kontroversi ini demi kesejawatan.
  • Seorang penderita kejang yang berlangsung selama sepuluh tahun dengan minum berbagai obat anti kejang tidak membaik. Dalam pemeriksaan laboratorium, CT scan dan EEG dalam batas normal. Berbagai dokter ahli persarafan di Indonesia bahkan di Singapura di bidangnyapun masih terjadi beda pendapat. Sebagian menyarankan minum obat kejang sebagian dokter lainnya obat kejang tidak perlu.  Ketika dilakukan evaluasi ternyata penderita mengalami gangguan alergi makanan dan dicurigai bahwa sangat mungkin gangguan kejang karena berkaitan dengan alergi makanan. Saat dilakukan elminasi provokasi makanan terbukti gejala alergi saluran cerna membaik dan keluhan kejang membaik tanpa pengobatan anti kejang. Saat itu penderita melakukan elminansi provokasi makanan dengan ketat selama 2 bulan. Tetapi saat mendengar informasi dari dokter ahli lainnya bahwa makanan tidak berkaitan dengan gejala tersebut penderita melepas lagi program eliminasi provokasi makanan. Ketika melakukan konsultasi ulang ternyata setelah 2 bulan paska menarik diri dari program elimnasi provokasi tersebut gejala kejang tersebut hilang timbul lagi dengan berganti-ganti obat tetapi responnya tidak membaik seperti yang diharapkan.
  • Penatalaksanaan Alergi pada anak khususnya alergi pada saluran napas dan hidung sering sangat sulit dan tidak optimal. Hal ini terjadi karena sampai saat ini banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi
  • Permasalahan ini terjadi karena banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi. Jadi fakta yang kita hadapi selama ini adalah hanyalah mengobati akibat penyakitnya tetapi tetapi tidak mencari akar permasalahan kenapa penyebab penyakit itu bisa timbul jangka panjang dan hilang timbul. Berbagai pemeriksaan alergi ternyata akurasi dan spesifitasnya sangat rendah. Hal inilah yang tampaknya menjadi penyebab utama mengapa kasus alergi sulit sekali dalam mengatasinya.
  • Pemeriksaan yang terbukti secara ilmiah untuk mencari penyebab alergi adalag tes kulit dan RAST. Namun pemeriksaan alergi berupa tes kulit, dan RAST  sangat terbatas sebagai alat diagnosis untuk alergi makanan. Sehingga sebaiknya tidak boleh menghindari dan membolehkan makanan penyebab alergi berdasarkan karena tes kulit alergi. Karena, tes kulit ini tidak bisa mendeteksi reaksi alergi tipe lambat seperti alergi makanan tertentu.
  • Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi. Paling ideal dalam  mencegah timbulnya alergi adalah menghindari pencetus atau penyebabnya. Hal ini memerlukan pengamatan yang cermat dan kerjasama yang baik antara dokter, pasien dan keluarga. Untuk mendapatkan hasil  penanganan alergi yang optimal harus dipahami perbedaan antara penyebab dan pencetus alergi.

Berdasarkan beberapa fakta ilmiah termasuk berbagai penelitian ilmiah belakangan telah terungkap bahwa alergi makanan menimbulkan komplikasi yang cukup mengganggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sudah ada tersebut. Meski berbagai peneilitian klinis juga mengungkapkan hal tersebut ternyata terdapat juga sebagian penelitian klinis yang tidak sependapat bahwa berbagai kelainan tersebut tidak berkaitan dengan alergi.

Memang sampai saat ini bahkan di negara sudah majupun banyak gangguan alergi tidak disadari bahkan oleh sebagian dokter. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa berbagai keluhan yang dia alami atau yang dialami anaknya itu adalah gejala alergi.  Resource (Marketing Research) Limited  melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, tahun 2000  dilaporkan  lebih dari 50% orang dewasa menderita alergi makanan. Sekitar 70% penderita  alergi baru mengetahui kalau ia mengalami  alergi setelah lebih dari 7 tahun. Sekitar 50% orang dewasa mengetahui penyebab gejala alergi setelah 5 tahun, bahkan terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Sebanyak 80% penderita alergi mengalami gejala seumur hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa di negara maju seperti Inggrispun para dokter terlambat mendiagnosis alergi apalagi di Indonesia. Ternyata para dokter di Inggrispun menganggap bahwa selama ini berbagai gangguan yang ada tidak berkaitan dengan alergi.

Berbagai gangguan alergi atau hipersensitifitas makanan tersebut adalah gangguan fungsional sehingga dianggap normal dan dikatakan dengan pertambahan usia akan membaik. Mungkin saja saja sebagian pendapat tersebut benar. Memang penderita alergi makanan terutama yang mengganggu saluran cerna dan ssusunan saraf pusat mengalami gangguan fungsional. Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Bahkan beberapa dokter menganggap bahwa gangguan tersebut dipengaruhi karena stres. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik. Memang gangguan fungsional pada umumnya adalah masalah imaturitas atau ketidakmatangan sistem tubuh, karena dengan pertambahan usia setelah usia 2 hingga 7 tahun akan membaik. Meski ada yang masih mengalami hingga usia 12 tahun dan sebagian masih mengalami hingga dewasa meski dengan tingkat gangguan yang berkurang. Tetapi bukan berarti harus menunggu sampai usia tertentu membaik karena bila dilakukan elminasi provokasi makanan untuk mencari penyebab makanan penyebabnya gangguan tersebut akan membaik.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran dan teknologi kedokteran, namun kejadian alergi justru meningkat pesat, dan semakin banyak yang masih misterius belum terungkap. Banyak klinisi memvonis alergi pada penderita tetapi tidak bisa mengadviskan dengan pasti penghindaran penyebab karena kesulitan terbesar penanganan alergi adalah mencari penyebabnya.

Alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dan hipersensitivitas makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan Autism.

Bila melihat demikian luasnya gangguan yang terjadi dan banyaknya organ yang terganggu, tampaknya alergi dan hipersensitivitas makanan adalah suatu “gangguan sistemik”. Dapat dimaklumi bila ada pendapat, bahwa ungkapan itu terlalu berlebihan karena semua keluhan selalu dikaitkan dengan alergi dan hipersensitifitas makanan. Namun pendapat ini akan sirna, bila banyak penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mengungkapkan, memang benar bahwa gangguan dan keluhan tersebut memang terjadi pada dirinya.  Secara ilmiahpun hal ini didukung oleh penelitian ilmiah dan laporan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu yang mengaitkan bahwa berbagai gejala tersebut penyebabnya adalah alergi. Habnya seringkali terjadi kontroversi yang berlebihan antara sesama dokter dan orangtua karena alergi dan hipersensitivitas makanan hanya bisa ditegakkan diagnosisnya dengan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis klinis adalah mengamati secara cermat tanda dan gejala yang timbul berkaitan dengan pemberian makanan yang diberikan melalui anamnesa (menanyakan secara cermat semua keluhan) dan pemeriksaan fisaik oleh dokter.

Dalam beberapa puluh tahun lamanya mungkin sering dihadapi oleh masyarakat pada umumnya, masih sering terjadi kontroversi tentang penyakit alergi dan hipersensitifitas makanan. Sering terjadi bukan hanya pada orang awam di kalangan dokterpun masih banyak terjadi perbedaan pendapat. Seorang penderita alergi dan hipersensitivitas makanan mendapat advis dari seorang dokter untuk menghindari makanan tertentu untuk mengurangi keluhan penyakitnya. Tetapi dokter lainnya mengatakan tidak perlu menghindari makanan tersebut, karena makanan tidak berhubungan dengan penyakitnya. Sebagian dokter berpendapat, bahwa gejala alergi dan hipersensitivitas makanan jarang ditemukan.  Ada pendapat alergi dan hipersensitivitas makanan hanya berkaitan dengan sedikit penyakit dan sangat jarang menyangkut bahan makanan.

Makanan yang diakui sebagai penyebab alergi masih sangat terbatas misalnya gluten susu dan ikan. Sedangkan kubu dokter lain berpendapat alergi dan hipersensitivitas makanan sangat umum dan bersembunyi dibalik berbagai kelainan yang hingga sekarang tak dapat disembuhkan, seperti radang sendi (artritis), eksim (dermatitis atau alergi kulit), migren (sakit kepala sebelah). Mereka ingin mengungkapkan bahwa seluruh permasalahan kesehatan dapat dicetuskan dan disembuhkan dengan penanganan alergi dan hipersensitivitas makanan. Timbul pendapat bahwa penyebab alergi makanan tidak dibatasi, semua jenis makanan atau minuman dapat dianggap sebagai penyebab alergi.

Bahkan bahan bukan makanan dapat menyebabkan alergi seperti semprotan rambut, uap obat nyamuk, uap bensin, plastik dan semua bahan kimia yang potensial mengganggu dalam lingkungan kita. Penyebab alergi lainnya yang sudah lama diyakini dan tidak disangsikan lagi adalah debu, kutu, bulu binatang, serbuk sari atau bulu unggas lainnya.

Suasana perbedaan pendapat tersebut jauh dari suasana kekeluargaan. Ungkapan dari berbagai pihak seperti “tak terbukti”, “berbahaya”, “orientasi obat”, “berpikiran sempit”, “tidak ilmiah” atau “tidak kompeten” secara tak sadar secara langsung diterima oleh pasien. Jika para pakar medis sudah berbeda pendapat secara tajam, maka orang awam menjadi bingung karena pendapat berbagai dokter berlainan. Dalam menghadapi kontroversi ini tidak heran bila masyarakat semakin bingung tak tahu harus minta bantuan kemana. Fakta ilmiah dan data penelitian telah banyak menunjukkan bahwa ternyata makanan tertentu dapat menyebabkan berbagai gangguan yang selama ini tidak diperkirakan banyak orang. Ternyata, makanan yang bergizi setinggi apapun dan selezat apapun ternyata dapat merugikan mengganggu tubuh manusia yang sebaliknya dapat mengakibatkan berbagai gangguan fungsi tubuh.

Berbagai gangguan dan sistem tubuh telah disepakati sebagai akibat pengaruh makanan. Tetapi sebaliknya justru telah menjadi kontroversi baik masyarakat awam maupun sesama dokter bahwa ternyata berbagai makanan sebagai penyebab gangguan tubuh manusia. Hal itu terjadi karena untuk memastikan pengaruh makanan terhadap tubuh bukan berdasarkan tes alergi atau pemeriksaan laboratorium semata tetapi berdasarkan diagnosis klinis yang di bidang medis di sebut chalenge test atau eliminasi provokasi makanan.

Tidak hanya dalam alergi makanan, tampaknya kontroversi itu adalah hal yang biasa seperti hal penyakit lainnya di bidang kedokteran. Biasanya bila untuk memastikan diagnosis suatu penyakit atau kelainan hanya berdasarkan diagnosis klinis seringkali akan menimbulkan banyak kontroversi krena subyektifitasnya sangat tinggi. Contoh tersebut adalah dalam diagnosis Autism, ADHD, dan diagnosis gangguan fungsional lainnya yang dalam pemeriksaan imunopatobiologis normal. Hal ini mengakibatkan bahwa ADHD adalah wrong diagnosis terbesar di Amerika Serikat. Kondisi tersebut juga mengakibatkan mengapa seorang gangguan perilaku yang sama didiagnosis yang berbeda oleh 5 dokter yang berbeda. Beragamnya diagnosis kepada anak yang sama tersebut seperti diagnosis Autis, Autism Ringan, Bukan Autis, PDD NOS atau ADHD. Padahal klinisi yang mendiagnosisnya adalah sudah berkopeten di bidangnya. Tetapi bila dasar diagnosis tersebut parameternya disertai laboratorium dan pemeriksaan penunjang maka perbedaan pendapat tersebut semakin jarang. Misalnya diagnosis Hepatitis B, Hipertensi, Sindrom Nefrotik (klainan ginjal) atau Diabetes Melitus maka dalam mendiagnosisnya relatif tidak menimbulkan perbedaan persepsi.

Sumber Kontroversi

  • Di bidang ilmu kedokteran telah disepakati secara ilmiah bahwa untuk memastikan penyebab alergi adalah dengan eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi. Tes alergi hanya membantu diagnosis bukan memastikan penyebab alergi. Tetapi kesepakatan ilmiah yang seharusnya tidak terbantahkan ini sering diabaikan dan menjadi sumber berbagai kontroversi yang ada
  • Penyebab lain perbedaan pendapat ini adalah sulitnya untuk memastikan penyebab alergi dengan melakukan eliminai provokasi makanan. Gold Standart atau standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah DBPCFC (Double Blind Placebo Chalenge Food Control). Tetapi karena relatif rumit timbul beberapa modifikasi Chalenge test atau eliminasi provokasi makanan yang kelihatan mudah tetapi sulit ini seringkali tidak pernah dilakukan oleh klinisi dan sebagian ahli alergi untuk memastikan penyebab alergi makanan.
  • Gangguan alergi makanan khususnya gangguan pada saran cerna dan susunan saraf pusat adalah gangguan fungsi bukan gangguan organnya. Hal inilah yang melatarbelakngi mengapa semua gangguan yang berkaitan dengan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sering dianggap normal. Karena, memang manifestasi yang ada tidak didapatkan kelainan organ dengan pemeriksaan USG, foto kontras dan CT scan. Karena pemeriksaan tersebut tidak didapatkan kelainan maka dianggap penderita tidak punya kelainan, tetapi anehnya keluhan penderita hilang timbul. Saat dilakukan eliminasi provokasi makanan ternyata gangguan yang dianggap normal itu bisa membaik.
  • Penelitian berbagai manifestasi klinis dan pengaruh alergi makanan masih belum banyak terungkap jelas. Sampai saat ini keterkaitan berbagai manifestasi klinis gangguan fungsi tubuh dengan alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya masih relatif sulit dibuktikan secara ilmiah. Dalam penelitian ilmiah penelitian klinis adalah mempunyai kualitas penelitian yang tidak lebih baik dibandingkan penelitian yang diukur dengan parameter imunopatobiologis. Padahal diagnosis alergi makanan dan hipersensitifitas lainnya berdasarkan diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium imunopatobiologis Hal inilah yang mengakibatkan bahwa keterkaitan manifestasi klinis dengan alergi makanan sulit dibuktikan dengan standard ilmiah yang lebih baik. Pada umumnya dasar diagnosis penelitian alergi makanan dan hipersensitifita lainya yang membuktikan ketidakbermaknaannya hubungan tersebut dibuat bukan berdasarkan eliminasi provokasi tetapi berdasarkan parameter tes alergi dan laboratorium penunjang. Sehingga kesimpulan yang dibuatpun menjadi lemah. Seharusnya penelitian dampak alergi makanan atau manifestasi alergi makanan berdasarkan eliminasi provokasi makanan bukan berdasarkan parameter laboratorium atau pemeriksaan ts alergi. Di masa datang permasalahan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan akan lebih terungkap dengan jelas bila penelitian klinis eliminasi provokasi makanan disertai perubahan klinis dan perubahan biomolekular.
  • Sebagian dokter bahkan masih mendewakan tes alergi sebagai cara untuk mencari memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan. Hal ini tampak dengan banyak pendapat dari beberapa dokter bahwa ketika seseorang dipastikan menderita alergi makanan dan hipersensitifitas makanan dengan eliminasi provokasi masih disangsikan ketika belum dilakukan tes alergi. Padahal justru angka kejadian alergi makanan lebih sedikit dibandingkan hipersensittifitas makanan lainnya. Secara umum penderita alergi makanan adalah berkisar 4-9% tetapi diduga angka kejadian hipersensitifita makanan lainnya sepuluh kali lipat dibandingkan penderita alergi makanan. Tes alergi memang diperlukan untuk diagnosis tetapi untuk memastikannya harus dikonfirmasi lagi dengan eliminasi provokasi atau chalenge test.

Sumber Kontroversi lainnya

  • Pada umumnya gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan merupakan gangguan fungsional sistem tubuh. Gangguan fusngsional sistem tubuh mempunyai karakteristik oragan tubuh yag terlibat sering dianggap normal dan dalam pemeriksaan penunjangpun tidak ditemukan kelainan. Sehingga saat dilakukan pemeriksaan penunjang apapun seperti USG, CT Scan, MRI, EEG atau pemeriksaan lainnya pada organ tubuh adalah normal. Bila dikatakan normal sering timbul pertanyaan pada penderta. Mengapa dikatakan normal, padahal saya sangat menderita setiap hari dan berlangsung demikian lama. Dalam kedaan seperti ini biasanya setiap dokter yang memeriksa akan memeberikan pendapat yang bebeda tentang penyebabnya, bahkan sebagian dokter mengatalkan jujur tidak tahu penyebabnya. Beberapa dokter yang mencoba berspekulasi memberikan penilaian tentang penyebab kelainan tersebut biasanya jawaban seputar stres, masuk angin, terlalu capek dan masih bayak penyebab lainnya yang secara ilmiah kadang tidak sesuai. Sehingga saat wajar ketika pasien mengeluhkan gangguan yang selama ini diderita kepada tiga atau lima dokter pendapatnya akan berbeda. Hal ini akan membuat penderita semakin frustasi. Bila penyebabnya masih simpang siur maka akan berimbas pada terapinya akan juga tidak akan pernah fokus pada penyebabnya. Hal inilah yang juga mengakibatkan penderita gangguan reaksi simpang makanan karena alergi atau hipersensitifitas makanan menjadi berkepanjangan hilang timbul terus menerus dengan berpindah-pindah dokter.
  • Berdasarkan beberapa fakta ilmiah belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup menggaggu, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan autism. Meskipun sebenarnya alergi bukan penyebab ADHD atau Autism tetapi hanya memperberat gangguan perilaku yang sdah ada tersebut.
  • Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun mungkin sudah dapat terdeteksi. Alergi dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan Anak secara menyeluruh. Sehingga “overtreatment” dan “overdiagnosis” yang diberikan terhadap penderita alergi dapat dicegah sedini mungkin. Akhirnya komplikasi yang ditimbulkan khususnya dalam ganguan otak dan gangguan perilaku juga dapat dicegah lebih dini.

Berbagai pendapat dalam kontroversi itu adalah Kesulitan memastikan penyebab alergi makanan dan hipersensitifitas makanan yang seharusnya berdasarkan klinis ini mengakibatkan melebarnya perbedaan pandangan di bidang lainnya. Kontroversi tersebut adalah :

  • Pendapat ekstrim sebagian dokter yang mengatakan bahwa belum di tes dan diperiksa laboratorium tetapi sudah dipastikan alergi
  • Beberapa dokter berulang kali mengatakan bahwa penyebab alergi makanan terbesar di Jakarta adalah udang dan ikan laut, karena berdasarkan tes kulit alergi. Padahal tes kulit bukan untuk memastikan penyebab alergi makanan. Seharusnya yang benar adalah “kemungkinan” penyebab alergi adalah udang. Karena, belum tentu berbagai hasil tes kulit yang negatif adalah bukan penderita alergi makanan bahan yang di tes tersebut.
  • Pemeriksaan alergi dengan tes alternatif yang tidak diakui oleh berbagai institusi kesehatan internasional dan tidak terbukti secara ilmiah seperti bioresonansi, IgG4 (yang dikirim ke Amerika) dan berbagai tes unproven lainnya
  • Penanganan langkah awal penderita alergi adalah mendeteksi penyebab dan menghindarinya. Tetapi karena berbagai kesulitan langkah awal ini diabaikan tetapi langsung masuk ke langkah berikutnya dengan pengobatan dan pencegahan alergi dengan obat-obatan.
  • Berbagai hal gejala dan gangguan fungsi tubuh disebabkan alergi dan hipersensitifitas makanan lainnya sering disangkal. Tetapi justru penyangkalan tersebut tanpa data ilmiah untuk membuktikan memang tidak berhubungan. Tetapi justru penelitian awal yang sudah semakin banyak bahkan tetap masih dipandang sebelah mata karena memang didoinasi penelitian klinis.
  • Pemakaian obat-obatan untuk profilaksis alergi makanan baik dengan ketotifen (profilas) atau obat alergi lainnya yang tidak terbukti sebagai pencegahan.
  • Sebenarnya fakta makanan dapat mengakibatkan berbagai manifestasi penyakit sudah diyakini beberapa praktisi kesehatan sejak lama. Hanya karena keterkaitan masalah tersebut belum dapat dibuktikan secara klinis tentang penyebabnya maka juga timbul berbagai perbedaan pandangan.
  • Berbagai pendekatan diet yang dianggap tidak seuai manifestasi imunopatobiologis bidang kedokteran di antaranya adalah :
  1. Diet berdasarkan Golongan darah
  2. Diet rotasi
  3. Diet Asam basa

Angka kejadian alergi dan hipersensitifitas makanan terus meningkat tajam dalam dekade terakhir ini. Terdapat kecenderungan alergi pada anak, merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan pelayanan Kesehatan Anak. Perhatian dan penanganan alergi pada anak masih belum optimal, bahkan sering terjadi keterlambatan penanganan. Tampak pada orang tua penderita alergi baru menyadari bahwa anaknya menderita alergi setelah sekian tahun lamanya anaknya menderita sakit yang berulang dan telah berganti-ganti dokter.

Cara menyikapinya

  • Kontroversi yang sangat tajam tersebut bukan hanya membingungkan para dokter tetapi pasienpun akan lebih bingung dalam menerima perbedaan pendapat para dokter tersebut. Untuk menyikapi hal tersebut sebenarnya bukan dengan langsung memvonis dokter satu paling benar atau dokter lain salah. Tetapi dipihak klinisi atau organisasi profesi harus membuat forum disikusi dan kalau perlu membuat workshop atau debat ilmiah untuk menyelesaikan masalah ini. Kala sudah sepakat maka para klinisi tersebut melalui organisasi profesi mengeluarkan rekomendasinya. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran fakta ilmiah sesuai Evidance Base Medicine. Bukan berdasarkan opini pakar atau profesor tanpa mempertimbangkan fakta klinis yang ada.
  • Bagi klinisi yang berseberang pendapat memang wajar terjadi tetapi harus berdasarkan fakta ilmiah dari pengalaman klinis berbasis bukti dengan didasari oleh berbagai penelitian. Tetapi sebaiknya bila klinisi tersebut tidak berbekal data ilmiah tetapi langsung membuat kontroversi semakin panas sangat disayangkan karena penyelesaian perbedaan pendapat tersebut harus diselesaikan dengan cara ilmiah bukan dengan debat tidak ilmiah.
  • Sedangkan di pihak pasien atau orangtua pasien dalam menyikapi hal ini harus secara obyektif. Bila orangtua atau pasien ragu dengan berbagai kontroversi tersebut maka sebaiknya ikuti langkah eliminasi provokasi atau chalenge test di bawah pengawasan dokter ahli. Bila berbagai gangguan yang ada membaik maka sebaiknya penderita harus percaya dengan fakta yang ada, bahwa alergi dapat mengganggu berbagai organ tubuh yang ada. Bila fakta tersebut ada, bukan berarti harus menyalahkan pendapat dokter lainnya bahwa dokter yang lain salah. Bahwa memang kebenaran ilmiah tersebut akan terjadi seiring dengan berjalannya waktu yang membutuhkan proses ilmiah alamiah yang panjang.

Benarkah Berbagai Gangguan ini bukan karena alergi atau hipersensitifitas makanan

MANIFESTASI KLINIS DAN GANGGUAN YANG SERING MENYERTAI PADA PENDERITA ALERGI
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK DAN DEWASA
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • SALURAN CERNA, MULUT DAN GIGI : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.  Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman). Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan. PreMenstrual Syndrome : gangguan saat haid. Rambut rontok.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK DAN DEWASA
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI, depresi dan mudah cemas (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK DAN DEWSSA
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami Infeksi Telinga
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 

 Cara Membuktikan Adanya alergi makanan

  • Bila tanda dan gejala  timbul lebih dari 3 dan di sertai salah satu gangguan saluran cerna maka sangat mungkin berbagai gangguan tersebut disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.
  • Kemudian lakukanlah eliminasi provokasi makanan seperti yang tersebut di atas selama 3 minggu di bawah pengawasan dokter ahli. Bila berbagai gangguan tersebut membaik maka dapat dipastikan bahwa anda mengalami alergi makanan. Dan berbagai gangguan yang ada selama ini disebabkan karena alergi makanan. Tetapi dalam melakukan eliminasi makanan selama 3 mingu tersebut haris disiplin dan ketat. Gangguan alergi biasanya masih sering timbul dalam pelaksanaan  eliminasi makanan tersebut bila penderita tidak disiplin dan mengalami infeksi virus yang sering tidak terdeteksi seperti badan hangat, bersin, hidung buntu dan sebagainya.
  • Pencetus atau hal yang memperberat (bukan penyebab) adalah udara dingin, stres, aktifitas, udara panas. Bila terdapat pencetus tersebut manifestasi alergi tidak akan timbul bula penyebab alergi makanan dihindari
  • Penyebab lain yang memperberat  tersebut  adalah Saat terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya atau Saat terdapat gangguan hormonal : menstruasi, kehamilan dan paska persalinan
  • Bila setelah 3 minggu berbagai keluhan yang ada tersebut membaik maka pendapat yang selama ini menyebutkan bahwa “Aku Tidak Alergi Makanan Adalah Tidak Benar”
 

ARTIKEL TEREKOMENDASI: Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi Anak dan Imunologi, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:Kumpulan Artikel Alergi Pada Bayi, Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

.

ARTIKEL FAVORIT:100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

Gejala Alergi pada bayi dan anak justru paling sering dipicu oleh adanya infeksi khususnya infeksi virus. Tetapi sebaliknya saat itu sering dianggap karena alergi susu atau alergi makanan. Gejala infeksi virus pada bayi khususnya sulit dikenali karena mirip gejala alergi. Reaksi terhadap alergi susu atau alergi makanan biasanya relatif ringan, namun begitu dipicu infeksi manifestasinya lebih berat. Pemicu alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi dihindari. Widodo Judarwanto 2012
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

Supported by

 www.allergyclinic.me

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation www.allergyclinic.me   GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021)  5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II  MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777 http://growupclinic.com  http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic Working together support to health of all by clinical practice, research and educations. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967   Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician 

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Clinical – Editor in Chief :
Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Allergy Online Clinic Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s