Gangguan Tidur dan Alergi Pada Bayi

Gangguan Tidur dan Alergi Pada Bayi

 

Banyak orang tua mengeluh bahwa bayinya seringkali sulit tidur malam. Bayi tampak sering nangis dan minta digendong. Sekitar 30% bayi mengalkami hal demikian. Saking banyaknya bayi yang mengalami hal ini dianggap biasa oleh para orangtua. Bahkan rewel bayi tersebut selama ini diabaikan oleh orangtua karena  dianggap karena “Bau Tangan” atau karena “Bayi Haus Terus” (minta minum terus). Hal itu sering dikeluhkan orangtua kepada dokter tetapi saat ini jarang sekali bisa dijelaskan dengan baik mengapa hal itu terjadi. Penyebab gangguan tidur sangat banyak dan bervariasi. Ternyata sebagian besar penyebab gangguan tidur sering terjadi pada bayi dengan riwayat alergi dan hipersensitifitas makanan. Gangguan tidur tersebut seringkali disertrai tanda dan gejala alergi pada bayi secara bersamaan. Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu gangguan tidur pada bayi yang selama ini terjadi menjadi membaik.

Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun

Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.

Penelitian yang telah dilakukan dr Widodo Judarwanto SpA tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Amati Tanda Dan Gejala Gangguan Tidur pada bayi

  • Malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum.
  • Sering dianggap “Bau Tangan” karena digendong diam tetapi saat ditaruh menangis
  • Anak tiba-tiba menjerit dan menangis keras-keras saat tidur
  • Sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam
  • Gangguan ini lebih serring dan lebih berat terjadi saat di bawah usia 3 bulan.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna pada bayi yang disebabkan karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh,
  • kembung,
  • Sering “cegukan (hiccups)
  • buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.
  • Sering “ngeden” dan bayi tampak sering bngulket (mulet) dengan tangan diangkat ke atas
  • SAering negeden seperti itu pada sebaguian bayi beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis.
  • Air liur berlebihan.
  • Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.

  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Feses cair, hijau, bau tajam, kadang seperti biji cabe. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
  • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Kuning Timbul kuning tinggi atau kuning bayi baru lahir berkepanjangan seharusnya setelah 2 minggu menghilang sering disebut Breastfeeding Jaundice (kuning karena ASI mengandung hormon pregnandiol).  Seringkali jadi pertanyaan mengapa sebagian besar bayi dengan ASI tidak mengalami kuning berkepanjangan. Setelah usia 6 telapak tangan dan kaki kadang berwarna kuning, sampai saat ini seringkali dianggap karena terlalu banyak makan wortel atau kelebihan vitamin A padahal selama ini hipotesa itu hanya sekedar dugaaan dan belum pernah dibuktikan dengan pemeriksaan darah. Kuning berkepanjangan meningkat pada bayi bisa sering terjadi pada bayi dengan gangguan saluran cerna dengan keluhan obstipasi (sering ngeden/mulet) dan konstipasi. Bila dicermati saat gangguan saluran cerna meningkat kuning semkai terlihat jelas dan sebaliknya saat saluran cerna membaik kuning menghilang.
  • Mulut hipersensitif. Lidah sering timbul putih kadang sulit dibedakan dengan jamur (candidiasis) atau memang kadang juga disertai infeksi jamur. Bibir tampak kering atau kadang pada beberapa bayi bibir bagian tengah berwarna lebih gelap atau biru. Produksi air liur meningkat, sehingga sering “ngeces (“drooling”) biasanya disertai bayi sering menjulurkan lidah keluar atau menyembur-nyemburkan ludah dari mulut.
  • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus). Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak Saat Baru lahir. Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir hingga saat usia 3 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. Disertai kelenjar thimus membesar (TRDN (Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
  • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi.
  • Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
  • Berat Badan Berlebihan atau kurang. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Saluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan. Pada bayi berusia di atas 6 bulan dengan keluhan sering mual, BAB ngeden atau sulit, BAB > 3 kali seringkali mengakibatkan kesulitan makan atau makan hanya sedikit yang mengakibatkan gangguan kenaikkan berat badan dan sering mengalami daya tahan tubuh menurun sejak usia 6 bulan. Pada usia sebelum 6 bulan kenaikkan pesat tetapi setelah usia 6 bulan kenaikkan relatif datar. Pada penderita hipersensitifitas non alergi (non atopi) biasa nya ghangguan berat badan dan sulit makan lebih tidak ringan dan timbul sejak usia sebelum 6 bulan tetapi setelah 6 bulan lebih buruk
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan karena bayi sering menangis dianggap haus. Haus palsu adalah tampilan bayi sering menangis, mulutnya sering seperti mau ngempeng atau mencari puting tampak sucking refleks berlebihan dirangsang pipinya sedikit sudah seperti mencari puting. Hal itu belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Pada bayi alergi yang sering rewel seringkali saluran cernanya sedikit sakit sehingga bila ada perasaan tidak nyaman bayi akan sering seperti ngempeng atau minta digendong. Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu dan napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
  • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR: KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik. GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN: Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Memperberat ADHD dab Autis. Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). Tetapi alergi bukan penyebab Autis tetapi hanya memperberat. Penderita alergi dengan otak yang normal atau tidak punya bakat Autis tidak akan pernah menjadi Autis.
Gejala alergi pada bayi selain makanan justru paling sering seringkali diperberat saat sakit atau terjadi oleh infeksi  berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus ringan ini lebih sulit dikenali. Biasanya hanya berupa badan sumer teraba hangat hanya di kepala, telapak tangan dan badan bila diukur suhu normal. Biasanya disertai bersin, batuk sekali-sekali dan pada anak bayi tertentu nafas bunyi grok-grokFlu pada bayi jarang sekali menimbulkan hidung meler biasanya hanya basah sedikit di sekitar hidung atau batuk sekali-sekali karena refleks batuk pada bayi basih belum sempurna.  Bahkan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi.Pada keadaan sakit seperti itu biasanya ada kontak yang sakit flu, demam, batuk atau infeksi virus ringan lainnya di dalam di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan yang dialami oleh penderita dewasa berupa badan ngilu, terasa pegal,nyeri tenggorokan atau kadang disertai  sakit kepala. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap “gejala mau flu tidak jadi”, masuk angin, kurang tidur, panas dalam atau kecapekan

PENYEBAB ALERGI MAKANAN PADA BAYI

Alergi makanan lebih sering terjadi pada usia bayi atau anak dibandingkan pada usia dewasa. Hal itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna pada anak. Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen, virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Dengan pertambahan usia, ketidakmatangan saluran cerna tersebut semakin membaik. Biasanya setelah 2 tahun saluran cerna tersebut berangsur membaik. Hal ini juga yang mengakibatkan penderita alergi sering sakit pada usia sebelum 2 tahun. Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami alergi makanan tetapi dalam pertambahan usia membaik.

Gejala dan tanda karena reaksi alergi pada anak dapat ditimbulkan oleh adanya alergen dari beberapa makanan tertentu yang dikonsumsi bayi. Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier.

Susu sapi dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada bayi yang paling sering. Beberapa penelitian di beberapa negara di dunia prevalensi alergi susu sapi pada anak dalam tahun pertama kehidupan sekitar 2%. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan system tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi susu. Sekitar 1-7% bayi pada umumnya menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sedangkan sekitar 80% susu formula bayi yang beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan system tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Alergi terhadap protein susu sapi atau alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul.

Pada bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif maka diet yang dikonsumsi ibu sangat berpotensi menimbulkan gangguan alergi. Diet ibu yang sangat berpotensi menimbulkan gangguan pada bayi yang paling sering adalah ikan laut (terutama yang kecil seperti udang, kerang, cumi dan sebagainya), kacang tanah dan buah-buahan (tomat, melon, semangka).

Saat pemberian makanan tambahan usia 4-6 bulan, gejala alergi pada bayi sering timbal. Jenis makanan yang sering diberikan dan menimbulkan gangguan adalah pemberian buah-buahan (jeruk, dan pisang), bubur susu (kacang hijau), nasi tim (tomat, ayam, telor, ikan laut (udang, cumi,teri), keju, dan sebagainya. Sehingga penundaan pemberian makanan tertentu dapat mengurangi resiko gangguan alergi pada anak. Menurut beberapa penelitian pemberian multivitamin pada bayi beresiko alergi ternyata meningkatkan gangguan penyakit alergi di kemudian hari.

PENANGANAN

  • Pengobatan gangguan tidur karena alergi makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila insomnia yang dialami disebabkan karena gangguan alergi makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada bayi haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.

PENANGANAN

  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila gangguan pada pada bayi tersebut bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengann berbagai gangguan tersebut  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada bayi harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

Challenge Tes (Eliminasi Provokasi Makanan-Open Food Elimination Provocation) : Diagnosis Pasti Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Alergi Pada Bayi

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
  • Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
  • France KG and Blampied NM. 1999. Infant sleep disturbance: Description of a problem behaviour process. Sleep Medicine Reviews 3(4): 265-280.
  • Heyman MB 2006. Lactose intolerance in infants, children, and adolescents. Pediatrics 118: 1279-1286.
  • Host A. 1997. Cow’s milk allergy. Journal of the Royal Society of Medicine. 90 (S30): 34-39.
  • Jolley SG, Lorenz ML, Hendrickson M, and Kurlinkski JP. 1999. Esophageal pH Monitoring Abnormalities and Gastroesophageal Reflux Disease in Infants With Intestinal Malrotation Arch Surg. 134:747-753.
  • Jung AD. 2001. Gastroesophageal reflux in infants and children. American family physician 64: 1853-1860.
  • Kahn A, Rebuffat E, Sottiaux M, Dufour D, Cadrenal S, Reiterer F. 1991. Arousals induced by proximal esophageal reflux in infants. Sleep 14: 39-42.
  • Kahn A, Francois G, Sottiaux M, Rebuffat E, Nduwimana M, Mozin MJ, and Levitt J. 1988. Sleep characteristics in milk-intolerant infants. Sleep 11(3): 291-297.
  • Kahn A, Mozin MJ, Rebuffat E, Sottiaux M, and Muller MF. 1989. Milk intolerance in children with persistent sleeplessness: A prospective double-blind crossover evaluation. Pediatrics 84: 595-603.
  • Montgomery-Downs HE and Gozal D. 2006. Snore-Associated Sleep Fragmentation in Infancy: Mental Development Effects and Contribution of Secondhand Cigarette Smoke Exposure. Pediatrics 117(3): e496-e502.
  • Paton JY, MacFadyen UM, and Simpson H. 1989. Sleep phase and gastro-oesophageal reflux in infants at possible risk of SIDS. Arch Dis Child 64(2):264-9.
  • Sargi Z and Younis RT. 2007. Pediatric obstructive sleep apnea: current management. ORL J Otorhinolaryngol Relat Spec. 69(6):340-4.
  • Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
  • Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3. Review. Japanese.
  • A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 84 No. 4 October 1989, pp. 595-603
  • A. Kahn , M. J. Mozin, G. Casimir, L. Montauk , D. Blum. Insomnia and Cow’s Milk Allergy in Infants. Pediatrics Vol. 76 No. 6 December 1985, pp. 880-884
  • A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Evaluating Persistent Sleeplessness in Children Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 85 No. 4 April 1990, pp. 629-630
  • Pajno GB, Barberio F, Vita D, Caminiti L, Capristo C, Adelardi S, Zirilli G Diagnosis of cow’s milk allergy avoided melatonin intake in infant with insomnia.Sleep. 2004 Nov 1;27(7):1420-1.
  • Morriss R.Insomnia in the chronic fatigue syndrome.BMJ. 1993 Jul 24;307(6898):264.
  • Lichstein KL Secondary insomnia: a myth dismissed.Sleep Med Rev. 2006 Feb;10(1):3-5.
  • Barr RG, Konner M, Bakeman R, Adamson L. Crying in !Kung San infants: a test of the cultural specificity hypothesis. Dev Med Child Neurol. 1991;33 :601 –610
  • Barr RG, Chen S, Hopkins B, Westra T. Crying patterns in preterm infants. Dev Med Child Neurol. 1996;38 :345 –355
  • James-Roberts I, Halil T. Infant crying patterns in the first year: normal community and clinical findings. J Child Psychol Psychiatry. 1991;32 :951 –968
  • Wessel M, Cobb JC, Jackson EB, Harris GS, Detwiler AC. Paroxysmal fussing in infancy, sometimes called “colic.” Pediatrics. 1954;14 :421 –434
  • Lehtonen L, Gormally S, Barr RG. Clinical pies for etiology and outcome in infants presenting with early increased crying. In: Barr RG, Hopkins B, Green JA, eds. Crying as a Sign, a Symptom, and a Signal. London, United Kingdom: Mac Keith Press; 2000:169–178
  • Coons S, Guilleminault C. Development of sleep-wake patterns and non-rapid eye movement sleep stages during the first six months of life in normal infants. Pediatrics. 1982;69 :793 –798
  • Giganti F, Fagioli I, Ficca G, Salzarulo P. Polygraphic investigation of 24-h waking distribution in infants. Physiol Behav. 2001;73 :621 –624
  • Coons S, Guilleminault C. Development of consolidated sleep and wakeful periods in relation to the day/night cycle in infancy. Dev Med Child Neurol. 1984;26 :169 –176
  • Hoppenbrouwers T, Hodgman JE, Harper RM, Sterman MB. Temporal distribution of sleep states, somatic activity, and autonomic activity during the first half year of life. Sleep. 1982;5 :131 –144
  • Weissbluth M, Davis AT, Poncher J. Night waking in 4- to 8-month-old infants. J Pediatr. 1984;104 :477 –480
  • Stahlberg MR. Infantile colic: occurrence and risk factors. Eur J Pediatr. 1984;143 :108 –111
  • Rautava P, Lehtonen L, Helenius H, Sillanpaa M. Infantile colic: child and family three years later. Pediatrics. 1995;96(suppl) :43 –47
  • Lehtonen L, Korhonen T, Korvenranta H. Temperament and sleeping patterns in colicky infants during the first year of life. J Dev Behav Pediatr. 1994;15 :416 –420
  • Canivet C, Jakobsson I, Hagander B. Infantile colic. Follow-up at four years of age: still more “emotional.” Acta Paediatr. 2000;89 :13 –17
  • James-Roberts IS, Conroy S, Hurry J. Links between infant crying and sleep-waking at six weeks of age. Early Hum Dev. 1997;48 :143 –152
  • White BP, Gunnar MR, Larson MC, Donzella B, Barr RG. Behavioral and physiological responsivity, sleep, and patterns of daily cortisol production in infants with and without colic. Child Dev. 2000;71 :862 –877
  • Papousek M, vonHofacker N. Persistent crying and parenting: search for a butterfly in a dynamic system. Early Dev Parent. 1995;4 :209 –224
  • Kirjavainen J, Kirjavainen T, Huhtala V, Lehtonen L, Korvenranta H, Kero P. Infants with colic have a normal sleep structure at 2 and 7 months of age. J Pediatr. 2001;138 :218 –223
  • Wolff PH. The Development of Behavioral States and the Expression of Emotions in Early Infancy: New Proposals for Investigation. Chicago, IL: University of Chicago Press; 1987
  • Kahn A, Francois G, Sottiaux M, et al. Sleep characteristics in milk-intolerant infants. Sleep. 1988;11 :291 –297
  • Shapiro CM, Devins GM, Hussain MR. ABC of sleep disorders. Sleep problems in patients with medical illness. BMJ. 1993;306 :1532 –1535
  • Harrington C, Kirjavainen T, Teng A, Sullivan CE. Cardiovascular responses to three simple, provocative tests of autonomic activity in sleeping infants. J Appl Physiol. 2001;91 :561 –568
  • McNamara F, Sullivan CE. Sleep-disordered breathing and its effects on sleep in infants. Sleep. 1996;19 :4 –12
  • Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, McVey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387
  • Guilleminault C, Souquet M. Scoring criteria. In: Guilleminault C, ed. Sleeping and Waking Problems: Indications and Techniques. Menlo Park, CA: Addison-Wesley Publishing Co; 1982:415–426
  • Lester BM, Boukydis Z, Garcia-Coll CT, Hole WT. Colic for developmentalists. Inf Ment Health J. 1990;11 :321 –333
  • Zeskind PS, Barr RG. Acoustic characteristics of naturally occurring cries of infants with “colic.” Child Dev. 1997;68 :394 –403
  • Anders TF, Halpern LF, Hua J. Sleeping through the night: a developmental perspective. Pediatrics. 1992;90 :554 –560
  • Hoppenbrouwers T. Polysomnography in newborns and young infants: sleep architecture. J Clin Neurophysiol. 1992;9 :32 –47
  • Emde RN, Metcalf DR. An electroencephalographic study of behavioral rapid eye movement states in the human newborn. J Nerv Ment Dis. 1970;150 :376 –386
  • Bamford FN, Bannister RP, Benjamin CM, Hillier VF, Ward BS, Moore WM. Sleep in the first year of life. Dev Med Child Neurol. 1990;32 :718 –724

One response to “Gangguan Tidur dan Alergi Pada Bayi

  1. Anak sy 5bulan setiap mau tidur nangis sambil ngisap jari tiarap balik kiri kanan apa penyebabx pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s