Perjalanan Alamiah Alergi Sejak Bayi Hingga Dewasa

Perjalanan Alamiah Alergi Sejak Bayi Hingga Dewasa

Berbagai pendapat dan teori baik dari kalangan awam dan para ahli tentang perjalanan alergi sangat beragam. Sebagian orang awam meyakini dahulu dirinya mengalami asma pada saat usia anak, tetapi setelah rajin olahraga dan berenang asmanya hilang. Orang lain berkesaksian setelah minum vitamin, atau darah ular asmanya hilang. Sedangkan orangtua lain menceritakan setelah sering bermain di pantai asmanya hilang. Sedangkan dokter berpendapat lain, setelah memberikan pasiennya obat pencegahan asma golongan ketotifen, gejala asma pasiennya menghilang setelah usia 12 tahun. Benarkah berbagai hal tersebut dapat menghilangkan penyakit asma?

Ternyata berbagai penelitian mengungkapkan bahwa terdapat Allergy March atau perjalanan alamiah penyakit alergi yang timbul sesuai dengan perkembangan usia. Perjalanan alamiaH alergi tersebut menunjukkan bahwa pada usia tertentu manifestasi klinisatau organ tubuh yang terganggu tampak berbeda. Meskipun banyak variasi Allergy March yang terjadi tetapi secara umum digambarkan setiap usia manifestasi organ yang terganggu berbeda. Pada usia sejak lahir hingga usia 5-7 tahun organ tubuh yang sangat sensitif adalah kulit dan saluran cerna. Setelah itu saluran napas termasuk asma dan hidung mulai sering terganggu. Pada usia remaja setalah memasuli usia dewasa asma berkurang tetapi gangguan hidung masih berkepanjangan.

Tampaknya fenomena perjalanan alamiah alergi inilah yang menunjukkan pada usia tertentu asma akan menghilang. Hal inilah yang sering dikaitkan dengan intervensi upaya pengobatan pada penyakit asma dan tingkat keberhasilannya. Contohnya, gangguan kulit, saluran cerna dan asma dianggap hilang saat usia tertentu karena olah raga renang, bermain dipantai, minum darah ular, atau binatang ”tokek”. Tetapi orangtua jangan berharap senang, karena ternyata setelah gangguan kulit, gangguan saluran cerna dan asmanya menghilang orag tubuh yang terganggu adalah hidung. Jadi, sebenarnya alegi tidak membaik, hanya organ tubuh yang terganggu berpindah tempat dari kulit, ke asma dan berikutnya ke hidung.

Meskipun banyak variasi Allergy March yang terjadi tetapi secara umum digambarkan setiap usia manifestasi organ yang terganggu berbeda.

  1. Usia sejak lahir – 5 tahun organ tubuh yang sangat sensitif adalah kulit dan saluran cerna.
  2. Usia 5 – 12 tahun  saluran napas termasuk asma dan hidung mulai sering terganggu.
  3. Usia 15 tahun hingga dewasa. Pada usia remaja setalah memasuli usia dewasa asma berkurang tetapi gangguan hidung masih berkepanjangan seperti rinitis alergi dan sinusitis.

Dari penelitian penulis ternyata allergy march atau perjalanan alamiah alergi tidak harus selalu sama yang di atas. Tetapi ada beberapa variasi yang terdapat dalam beberapa kelompok anak lainnya. Ada juga yang di bawah usia 5 tahun sesak tetapi setelah 5 tahun sesak membaik tetapi berganti menjadi mudah pilek dan hidung buntu. Anak kelompok lainnya ada yang di usia balita tidak sesak tetapi hanya pencernaannya yang sensitif tetapi di atas usia balita kulitnya semakin senssitif. Jadi variasi tersebut tidak sama dalam setiap anak.  Tetapi pada prinsipnya semua tanda dan gejala alergi seringan dan dalam bentuk napapun merupakan awal perjalanan panjang penyakit alergi. Sehingga mencegah alergoi pada bayi dapat mencegah gangguan alergi di masa depan seperti asma, rinitis alergi atau sinusitis.

Tampaknya fenomena perjalanan alamiah alergi inilah yang menunjukkan pada usia tertentu asma akan menghilang. Hal inilah yang sering dikaitkan dengan intervensi upaya pengobatan pada penyakit asma dan tingkat keberhasilannya. Contohnya, gangguan kulit, saluran cerna dan asma dianggap hilang saat usia tertentu karena olah raga renang, bermain dipantai, minum darah ular, atau binatang ”tokek”. Tetapi orangtua jangan berharap senang, karena ternyata setelah gangguan kulit, gangguan saluran cerna dan asmanya menghilang orag tubuh yang terganggu adalah hidung. Jadi, sebenarnya alegi tidak membaik, hanya organ tubuh yang terganggu berpindah tempat dari kulit, ke asma dan berikutnya ke hidung.

Mengapa Allerhy March Terjadi

Terdapat 3 faktor penyebab terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus. Alergi bersifat genetik dan dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Faktor penyebab terjadi alergi yang lain adalah factor imaturitas saluran cerna atau ketidakmatangan saluran cerna. Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Faktor pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan.
Faktor imaturitas saluran cerna inilah tampaknya yang bnerperanan dalam perjalanan alamiah alergi seseorang. Saat usia sejak lahir ketidak matangan saluran cerna sangat berat pada bayi tertentu seperti sering muntah, kolik, dan gangguan kulit. Seiring dengan pertambahan usia, setelah 3 bulan kolik berangsur berkurang, usia 6 hingga 2 tahu keluhan muntah berkurang.

PERIODE JANIN

  • Alergi adalah penyakit dengan pola Th2. Pada orang normal yang non atopi, pola sitokin Th1 dan Th2 dalam keadaan seimbang. Sedangkan pada penderita atopi, keseimbangan lebih berat pada pola sitokin Th2 . Pada masa kehamilan dominasi juga pada pola sitokin Th2. Sawar darah placenta masih transparan terhadap alergen dalam lingkungan ibu. Faktor lingkungan dapat bekerja sebelum dan sesudah lahir.
  • Faktor lingkungan sebelum lahir dapat mempengaruhi diferensiasi sel T yang allergen spesifik menjadi fenotipe Th2, sehingga alergi atopi sudah bekerja sebelum lahir. Kehamilan yang berhasil ditandai dengan pergeseran Th1 ke Th2 di fase antar fetomaternal untuk mengurangi reaktifitas sistem imun maternal terhadap allograft janin.
  • Setelah kelahiran sistem imán menjadi matang, kesimbangan bergeser ke arah Th1, sehingga profil sitokin Th1 daTh2 menjadi seimbang. Pada bayi yang punya bakat atopi keseimbangan ini tidak pernah tercapai sehingga dominasi Th2 terus terjadi, mengakibatkan sensitisasi dan timbulnya gangguan alergi. Dalam perkembangan terakhir ditemukan T regulator, sehingga ada peluang terjadi supresi imun toleran. Fenomena ini dapat digunakan upaya pencegahan primer.

PERIODE BAYI 0-7 TAHUN

  • Pada periode ini gangguan organ tubuh yang paling sering terjadi adalah gangguan kulit dan saluran cerna. Karena imaturitas saluran pencernaan inilah maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan.
  • Pada bayi baru lahir hingga usia 3 tahun biasanya ditandai sering rewel, colic/menangis terus menerus tanpa sebab pada malam hari, hiccups (cegukan), sering “ngeden”, sering mulet, meteorismus, muntah, sering flatus, berak berwarna hitam atau hijau, berak timbul warna darah. Pada lidah sering ditemukan berwarna putih. Gangguan buang air besar dapat berupa sulit buang air besar (tidak setiap hari) atau malahan sering buang air besar .
  • Pada yang lebih besar dapat berupa nyeri perut berulang, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden) kembung, muntah, sulit berak, sering flatus, sariawan, mulut berbau dan lidah sering kotor (geographic tongue). Gangguan pada saluran cerna biasanya sering disertai oleh gangguan kulit dan rhinitis. Biasanya keluhan gangguan saluran cerna bersamaan dengan gangguan kulit.
  • Mulut adalah termasuk salah satu bagian dari sistem saluran cerna. Bila saluran cerna terganggu karena alergi makanan biasanya tampak juga gangguan pada organ tubuh di daerah mulut di antaranya lidah, gigi dan bagian di rongga mulut lainnya.
  • Pada bayi lidah sering tampak kotor berwarna putih, gejala ini mirip gangguan moniliasis (like moniliasis symptoms) sejenis jamur pada mulut. Bedanya pada alergi warna putih hanya tipis dan tidak terlalu tebal, namun pada moniliasis tampak lebih tebal. Bila gangguan tersebut karena jamur biasanya dengan obat tetes mulut jamur akan cepat membaik, namun bila karena alergi biasanya diberi obat jamur tetap tidak akan membaik dan tetap sering timbul. Bila karena alergi sebaiknya tidak perlu diberi obat jamur, namun cukup dibersihkan dengan kasa basah.
  • Pada anak yang lebih besar gangguan alergi bisa menimbulkan sariawan atau luka (aphtous ulcer) pada lidah dan mulut yang sering berulang. Biasanya juga disertai lidah kotor mirip gambaran pulau-pulau (geographic tounge). Gangguan lain adalah timbulnya nyeri gigi atau gusi yang bukan di sebabkan karena infeksi atau gigi berlubang. Gangguan ini biasanya sering dianggap sebagai impacted tooth (gigi yang tumbuhnya miring).
  • Tanda dan gejala alergi pada kulit biasanya sudah dapat di deteksi sejak lahir. Bayi yang baru lahir apabila sejak dalam kandungan sudah terpapar oleh pencetus alergi tampak terdapat bintil dan bercak kemerahan dan kusam pada kulit dahi dan wajah, kadang disertai timbulnya beberapa papul warna putih di hidung. Apabila pencetus alergi tersebut berlangsung terus maka sering. Pada bayi sering timbul dermatitis atopi di pipi, daerah popok (dermatitis diapers) dan telinga, kadang dijumpai dermatitis seboroikum atau timbul kerak di kulit kepala. Sering juga timbul bintik kemerahan di sekitar mulut. Kadang timbul furunkel di kepala dan badan. Sering urticaria, miliaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman seperti bekas terbentur, bercak ke hitam seperti bekas digigit nyamuk.
  • Perbedaan lokasi alergi kulit sesuai dengan usia tertentu. Pada bayi sering lokasi alergi sekitar wajah dan daerah popok, pada usia anak lokasi tersebut biasanya berpindah pada darerah lengan dan tungkai. Sedangkan pada anak yang lebih besar atau usia dewasa lokasi alergi kulit biasanya pada pelipatan dalam antara lengan atas dan bawah atau pelipatan dalam antara tungkai atas dan bawah.
  • Ternyata saat gangguan hipersensitif pada saluran cerna inilah sering timbul berbagai masalah pada penderita alergi. Saat saluran cerna terganggu atau sensitif akan mengakibatkan daya tahan tubuh seorang anak memburuk. Hal ini terjadi karena merkanisme pertahanan tubuh seseorang hampir sebagian besar atau sekitar 70% dibentuk di saluran cerna. Selama masa usia 0-5 tahun gangguan saluran cerna seperti sering muntah, neyri perut dan sulit BAB adalah fase dimana anak sangat vrentan atau mudah terserang infeksi seperti demam, batuk dan pilek. Hal inilah juga menunjukkan bahwa banyak gangguan perilaku pada anak terjadi sebelum usia 5-7 tahun lebih berat atau berkurang setelah usia 5-7 tahun. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan bicara, gangguan emosi, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan motorik dan sebagainya.

PERIODE 7-12 TAHUN

  • Setelah usia 5-7 tahun gangguan kulit dan saluran cerna cenderung membaik. Pada periode ini organ tubuh yang terganggu berpeindah pada saluran napas yang paling sering ditemukan. Manifestasi klinisnya berupa keluhan batuk, pilek, tanpa,atau dengan disertai sesak atau asma. Keluhan tersebut biasanya terjadi pada malam atau pagi hari. Biasanya keluhan tersebut lama sembuhnya meskipun sudah diobati.

PERIODE 12 TAHUN DEWASA

  • Setelah usia 12 tahun biasanya asma jauh berkurang meskipun pada sebagian kecil menetap hingga usia dewasa. Pada usia ini organ tubuuh yang sensitive berpindah pada hgidung. Manifestasi klinis alergi pada Telinga Hidung Tenggorok berupa rinitis, hidung gatal, bersin dan sinusitis. Kadang dijumpai tenggorokan atau palatum terasa gatal dan post nasal drip. Bila keluhan sering terjadi dan berlanjut akan menyebabkan komplikasi sinusitis, epistaksis, deviasi septum nasi, tonsillitis kronis atau faringitis kronis.
  • Ciri khas pada anak biasanya dijumpai tanda hidung kelinci (rabbit nose) yaitu anak sering menggerak-gerakkan hidung, sering menggosok-gosok hidung (salam alergi), mata sering gatal, belekan dan sering berair, di bawah kelopak mata tampak tanda kehitaman (allergic shiner). Bila tidur sering ngorok, atau napas dengan mulut, kadang juga timbul suara serak atau parau. Sering timbul benjolan kelenjar di leher dan belakang kepala.

Pencegahan Sejak Bayi

  • Fenomena perjalanan alamiah alergi ini ternyata sangat penting untuk pertimbvangan pencegahan penyakit alergi dikemudian hari. Misalnya, penderita bayi dengan gangguan kulit, saluran cerna yang mempunyai riwayat orangtua alergi akan beresiko mengalami asma dikemudian hari. Kejadian asma dikemudian hari inilah yang dapat dicegah bila manifestasi alergi saat usia bayi dan anak dapat diminimalkan. Demikian juga gangguan rinitis dan sinbusitis di amsa dewasa dapat dicegah bila manifesasi alergi sejak dini diminmalkan. Sehingga gejala dan manifestasi alergi saat usia bayi dan anak harus diwaspadai dan diminmalkan karena dapat meminimalkan perjalanan alamiah penyakit alergi di kemudian hari.
  • Bila terdapat riwayat keluarga baik saudara kandung, orangtua, kakek, nenek atau saudara dekat lainnya yang alergi atau asma. Dan bila anak sudah terdapat ciri-ciri alergi sejak lahir atau bahkan bila mungkin deteksi sejak kehamilan maka harus dilakukan pencegahan sejak dini. Resiko alergi pada anak dikemudian hari dapat dihindarkan bila kita dapat mendeteksi dan mencegah sejak dini.
  • Pencegahan alergi makanan terbagi menjadi 3 tahap, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan Primer , bertujuan menghambat sesitisasi imunologi oleh makanan terutama mencegah terbentuknya Imunoglobulin E (IgE).. Pencegahan ini dilakukan sebelum terjadi sensitisasi atau terpapar dengan penyebab alergi. Hal ini dapat dilakukan sejak saat kehamilan.
  • Pencegahan sekunder, bertujuan untuk mensupresi (menekan) timbulnya penyakit setelah sensitisasi. Pencegahan ini dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi manifestasi penyakit alergi belum muncul. Keadaan sensitisasi diketahui dengan cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum darah, darah tali pusat atau uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 hingga 3 tahun.
  • Pencegahan tersier, bertujuan untuk mencegah dampak lanjutan setelah timbulnya alergi. Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjukkan manifestasi penyakit yang masih dini tetapi belum menunjukkan gejala penyakit alergi yang lebih berat. Saat tindakan yang optimal adalah usia 6 bulan hingga 4 tahun.
  • Kontak dengan antigen harus dihindari selama periode rentan pada bulan-bulan awal kehidupan, saat limfosit T belum matang dan mukosa usus kecil dapat ditembus oleh protein makanan.

Ada beberapa upaya pencegahan yang perlu diperhatikan supaya anak terhindar dari keluhan alergi yang lebih berat dan berkepanjangan dikemudian hari :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s