Asma dan Gangguan Gizi Ganda

Asma dan Gangguan Gizi Ganda

Tidak hanya pada dewasa, asma atau alergi adalah penyakit kronik juga banyak terjadi pada anak ternyata beresiko terjadi gangguan tumbuh dan berkembangnya anak.  Asma sebagai salah satu manifestasi alergi, tidak hanya hanya mengganggu sistem pernapasan tetapi juga mengganggu berbagai orang dan sistem tubuh. Gangguan neurologi dan gangguan perilaku juga banyak terjadi pada penderita asma. Ternyata penderita asma mengalami berbagai gangguan penyerta yang sering diabaikan dan dianggap gangguan yang terpisah. Sehingga penanganan gangguan penyerta tersebut khsusnya gangguan gizi ganda juga sering dilakukan terpisah.

Angka kejadian asma terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Penyakit asma terbanyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu tumbuh dan berkembangnya. Asma adalah salah satu manifestasi alergi. Alergi dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Selain gangguan pulmonal gangguan yang menyertai adalah gangguan organ tubuh lain, gangguan pertumbuhan, perkembangan, perilaku dan permasalahan kesehatan lainnya. Tetapi permasalahan tersebut  belum banyak terungkap dan diperhatikan. Gangguan tersebut tampaknya sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak penderita asma yang sudah banyak mengalami gangguan sistem pernapasan. Selama ini yang diungkapkan tentang asma mungkin hanya seputar patofisiologi, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan.

Asma adalah penyakit yang mempunyai banyak faktor penyebab. Yang paling sering karena faktor atopi atau alergi. Penyakit ini sangat berkaitan dengan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua,  kakek atau nenek anak menderita astma bisa diturunkan ke anak.  Faktor-faktor penyebab dan pemicu asma antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain.  Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, buah-buahan, kacang juga dianggap berpernanan penyebab asma. Polusi lingkungan berupa peningkatan penetrasi ozon, sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksid (NOX), partikel buangan diesel, partikel asal polusi (PM10) dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor.  Kondisi lain yang dapat memicu atau memperberat timbulnya asma adalah aktifitas, penyakit infeksi, emosi atau stres

Ternyata penderita asma mengalami berbagai gangguan penyerta yang sering diabaikan dan dianggap gangguan yang terpisah. Sehingga penanganan gangguan penyerta tersebut juga sering dilakukan terpisah. Bila hal ini terjadi sering terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi penyebab dan penanganan gangguan asma dan gangguan penyertanya. Padahal bila penanganan penyebab asma diidentifikasi dan dihindari dapat memperbaiki berbagai gangguan penyerta yang ada secara bersamaan

Gangguan Gizi Ganda

Penderita alergi dan asma sering dikaitkan dengan gangguan gizi ganda pada anak. Gizi ganda dapat menimbulkan obesitas atau bahkan sebaliknya terjadi  malnutrisi. Penelitian yang dilakukan oleh Erika von Mutius dkk dari University Children’s Hospital, Munich, Germany menyebutkan bahwa BMI tampaknya merupakan factor resiko independent pada terjadinya asma.

Obesitas

Prevalensi Asma, kelebihan berat badan dan  obesitas meningkat pesat di seluruh dunia . Kegemukan telah diusulkan sebagai faktor risiko terjadinya asma . Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengevaluasi publikasi terbaru yang membantu menjawab pertanyaan: ” Apakah peningkatan berat badan berkaitan dengan asma pada anak-anak? ” Peninjauan sercara sistematis literatur epidemiologi dilakukan dengan menggunakan database MEDLINE . Studi epidemiologi pada subyek manusia muda (yaitu , bayi, anak , dan remaja ) , yang diterbitkan dalam bahasa Inggris selama periode 2006-2011 yang disertakan. Sebuah pencarian literatur yang komprehensif menghasilkan 434 studi untuk pertimbangan lebih lanjut . Empat puluh delapan studi memenuhi kriteria review ini . Dua peneliti menerapkan Pedoman MOOSE untuk Meta – Analisis dan Systematic Reviews Studi penelitian pada semua studi diidentifikasi. Bukti saat ini mendukung hubungan yang lemah namun penting antara berat badan tinggi dan asma .

Informasi baru menunjukkan bahwa obesitas sentral pada anak-anak meningkatkan risiko asma . Juga, hubungan antara berat badan tinggi dan asma mungkin lebih kuat pada asma dan alergi. Meskipun sifat hubungan antara status kelebihan berat badan atau obesitas dan asma masih belum jelas. Studi prospektif menunjukkan bahwa berat badan yang tinggi mendahului gejala asma . Data ini menambah bobot pentingnya mencegah dan mengobati berat badan yang tinggi terhadap hasil asma .

Penelitian yang tersedia pada anak-anak belum diteliti secara memadai pengaruh perubahan berat badan (baik keuntungan atau kerugian ) pada gejala asma , daerah penting secara klinis . Selain energi kontrol, peran diet sebagai kemungkinan waran stimulus inflamasi penyelidikan lebih lanjut . Data yang terbatas tampaknya mendukung promosi ASI pada pengurangan kelebihan berat badan / obesitas hubungan – asma . Akhirnya , penelitian masa depan harus mencakup studi intervensi berat menilai berbagai ukuran lemak tubuh dalam kaitannya dengan asma yang terdefinisi dengan baik .

Gangguan Kenaikkan Berat Badan

Sebaliknya didapatkan penelitian pada penderita asma terdapat resiko gangguan pertumbuhan tinggi badan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Baum mengungkapkan penderita asma sering terjadi peningkatan platelet-activating factor (PAF) yang ternyata dapat menghambat produksi PGE2 dalam osteoblast. Prostaglandin E2 (PGE2) adalah salah satu faktor lokal yang berperanan penting untuk pertumbuhan tulang.

Ellul dalam penelitiannya mengungkapkan keterkaitan asma dan penyakit celiac pada anak. Secara bermakna didapatkan kenaikkan resiko terjadinya asma pada penderita celiac. Celiac adalah gangguan saluran yang tidak dapat mencerna kandungan gluten dan sejenisnya. Manifestasi klinis yang timbul adalah gangguan saluran cerna, dermatitis herpertiformis dan gagal tumbuh

Kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan juga dialami oleh sebagian kelompok penderita asama. Gangguan kenaikkan berat badan ioni terjadi karena pada penderita asma sering mengalami sakit berulang dan berkepanjagan sehingga sering mengganggu asupan nutrisi dan nafsu makan penderita. Nafsu makan penderitya juga sering terjadi saat alergi yang ada tidak terkendali. Gangguan sulit makan pada penderita asma sering dikaitkan dengan gangguan atau sensitif saluran cerna pada penderita asma.

Manifestasi Klinis Lain

Asma adalah salah satu manifestasi gangguan alergi. Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya sesak selanjutrnya sulit makan hingga berminggu-minggu.  Bagaimana keluhan  yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran).Reaksi alergi yang dapat menggganggu beberapa sistem dan organ tubuh anak dapat menyertai penderita asma. Organ tubuh atau sistem tubuh tertentu mengalami gangguan atau serangan lebih banyak dari organ yang lain. Mengapa berbeda, hingga saat ini masih belum banyak terungkap. Gejala tergantung dari organ atau sistem tubuh, bisa terpengaruh bisa melemah. Penderita asma juga sering disertai gangguan alergi pada organ tubuh yang lain seperti sering disertai hay fever, rinitis, sinusitis, dermatitis, conjungtivitis, migrain dan gangguan hormonal. Gangguan saluran cerna yang sering didapatkan adalah mudah mual dan muntah, Gastroesofageal refluk, Irritabel Bowel Syndrome, nyeri perut berulang, konstipasi dan gangguan saluran cerna lainnya.

Penanganan

  • Berpindah dokter ahli atau spesialis lainnya. Faktanya gangguan penyerta tersebut seringkali ditangani secara terpisah oleh banyak dokter dengan keahlian berbeda dan dianggap sebagai kejadian yang tidak berkaitan dengan gangguan asmanya. Misalnya seorang asma dengan disertai gangguan migrain, sering sakit kepala, sinusitis, amandel membesar,  gangguan berat badan kurang, gangguan kulit, sering sakit perut, tidak bisa diam, gangguan konsentrasi secara bersamaan dan gangguan perilaku. Seringkali gangguan asma ditangani dokter dokter paru, sinusitis dan amandel membesar diperiksakan dokter THT, gangguan kenaikan berat badan ditangani dokter gizi, gangguan pencernaan dikonsultasikan ke ahli gastroentrologi, gangguan kulit dibawa ke dokter kulit. Gangguan migrain dan sakit kepala dikonsultasikan ke dokter saraf dan gangguan perilaku ke psikiater atau ke dokter tumbuh kembang. Memang tidak salah bila melakukan konsultasi ke berbagai dokter ahli tersebut. Tetapi saat berbagai gangguan khususnya gangguan gizi ganda dianggap sebagai gangguan terpisah maka seringkali terjadi kesalahan dalam diagnosis dan penanganannya.
  • Tes alergi yang sering mengacaukan. Untuk memastikan penyebab alergi makanan, Gold Standart atau standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah DBPCFC (Double Blind Placebo Chalenge Food Control). Tetapi karena relatif rumit timbul beberapa modifikasi Chalenge test atau eliminasi provokasi makanan yang kelihatan mudah tetapi sulit ini seringkali tidak pernah dilakukan oleh klinisi dan sebagian ahli alergi untuk memastikan penyebab alergi makanan.Kesalahan tersering dalam melakukan pencarian penyebab alergi makanan pada asma adalah kesalahan dalam melakukan interpretasi tes alergi. Tes kulit alergi hanya bisa mendeteksi reaksi alergi tipe cepat seperti debu, tungau atau mungkin sebagian kecil makanan. Sebagian besar penyebab alergi makanan tidak bisa terdeteksi dengan tes alergi. Sedangkan tes lainya seperti bioresonansi, tes IgE4 (dikirim ke Amerika), tes bandul, tes mata, tes rambut sampai saat ini tidak direkomendfasikan oleh berbagai institusi alergi Internasional karena tidak terbukti manfaat dan kebenarannya secara ilmiah. Karena saat dilakukan tes alergi, makan sering hasilnya negatif. Maka makanan langsung diabaikan sebagai penyebab. Hal inilah yang menjadikan bahwa makanan diabaikan sebagai penyebab dalam memperberat kekambuhan Asma
  • Alergi Makanan Sering Dibaikan Alergi Makanan sering dilaporkan sebagai penyebab pada kekambuhan asma. Tetapi faktanya makanan sering diabaikan sebagai penyebab kekambuhan asma. Bila penderita asma  mengalami hipersensitif sdaluran cerna dengan gejala mudah mual dan muntah, Gastroesofageal refluk, Irritabel Bowel Syndrome, nyeri perut berulang, konstipasi dan gangguan saluran cerna lainnya maka makanan harus dicurigai sebagai penyebab utama. Ternyata saat dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan gangguan asma membaik disertai perbaikan pada gejala penyertanya lainnya.

Referensi:

  • Papoutsakis C, Priftis KN, Drakouli M, Prifti S, Konstantaki E, Chondronikola M, Antonogeorgos G, Matziou V. Childhood overweight/obesity and asthma: is there a link? A systematic review of recent epidemiologic evidence. J Acad Nutr Diet. 2013 Jan;113(1):77-105.
  • Beuther DA, Sutherland ER. Overweight, obesity, and incident asthma: a meta-analysis of prospective epidemiologic studies. Am J Respir Crit Care Med. 2007 Apr 1;175(7):661-6. Epub 2007 Jan 18.
  • Cibella F, et al. A cross-sectional study assessing the relationship between BMI, asthma, atopy, and eNO among schoolchildren. Ann Allergy Asthma Immunol. 2011
  • Kilic H, et al. Asthma in obese women: outcomes and factors involved. J Investig Allergol Clin Immunol. 2011
  • Flexeder C, et al. Association between obesity and atopy in adults? Int Arch Allergy Immunol. 2011
  • Silverberg JI, et al. Association between obesity and atopic dermatitis in childhood: a case-control study. J Allergy Clin Immunol. 2011
  • Santamaria F, et al. Obesity duration is associated to pulmonary function impairment in obese subjects. Obesity (Silver Spring). 2011
  • Quek YW, et al. Associations of serum leptin with atopic asthma and allergic rhinitis in children. Am J Rhinol Allergy. 2010
  • Berg CM, et al. Decreased fraction of exhaled nitric oxide in obese subjects with asthma symptoms: data from the population study INTERGENE/ADONIX. Chest. 2011
  • Kumar R, et al. Maternal Pre-Pregnancy Obesity and Recurrent Wheezing in Early Childhood. Pediatr Allergy Immunol Pulmonol. 2010
  • Visness CM, et al. Association of childhood obesity with atopic and nonatopic asthma: results from the National Health and Nutrition Examination Survey 1999-2006. J Asthma. 2010
  • Yoo S, et al. Association between obesity and the prevalence of allergic diseases, atopy, and bronchial hyperresponsiveness in Korean adolescents. Int Arch Allergy Immunol. 2011
  • Chen Y, et al. Association between obesity and atopy in adults. Int Arch Allergy Immunol. 2010
  • Kundi M, et al. Obesity and atopy: what is the relationship? Int Arch Allergy Immunol. 2010
  • Ma J, et al. Obesity, insulin resistance and the prevalence of atopy and asthma in US adults. Allergy. 2010
  • Antó JM, et al. Risk factors of new-onset asthma in adults: a population-based international cohort study. Allergy. 2010
  • Ross KR, et al. Obesity and obesity related co-morbidities in a referral population of children with asthma. Pediatr Pulmonol. 2009
  • Musaad SM, et al. Comparison of anthropometric measures of obesity in childhood allergic asthma: central obesity is most relevant. J Allergy Clin Immunol. 2009
  • Chen Y, et al. Atopy, obesity, and asthma in adults: the Humboldt study. J Agromedicine. 2009
  • Chu YT, et al. Extreme BMI predicts higher asthma prevalence and is associated with lung function impairment in school-aged children. Pediatr Pulmonol. 2009
  • Visness CM, et al. Association of obesity with IgE levels and allergy symptoms in children and adolescents: results from the National Health and Nutrition Examination Survey 2005-2006.J Allergy Clin Immunol. 2009
  • Leung TF, et al. Association between obesity and atopy in Chinese schoolchildren. Int Arch Allergy Immunol. 2009
  • Van Gysel D, et al. Body mass index in Belgian schoolchildren and its relationship with sensitization and allergic symptoms. Pediatr Allergy Immunol. 2009
  • Verhulst SL, et al .Sleep-disordered breathing, obesity, and airway inflammation in children and adolescents. Chest. 2008
  • Butland BK, et al. C-reactive protein, obesity, atopy and asthma symptoms in middle-aged adults. Eur Respir J. 2008
  • Remes ST, et al. High birth weight, asthma and atopy at the age of 16 yr. Pediatr Allergy Immunol. 2008
  • Schneider AP, et al. The role of breastfeeding, diet and nutritional status in the development of asthma and atopy. J Bras Pneumol. 2007
  • Boulet LP, et al. Influence of obesity on response to fluticasone with or without salmeterol in moderate asthma. Respir Med. 2007
  • Silva MJ, et al. Atopic disease and body mass index. Allergol Immunopathol (Madr). 2007
  • Santamaria F, et al. Asthma, atopy, and airway inflammation in obese children. J Allergy Clin Immunol. 2007
  • Misso NL, et al. Plasma phospholipase A2 activity in patients with asthma: association with body mass index and cholesterol concentration. Thorax. 2008
  • Flaherman V, et al. A meta-analysis of the effect of high weight on asthma. Arch Dis Child. 2006
  • Vieira VJ, et al. Elevated atopy in healthy obese women. Am J Clin Nutr. 2005
  • Bråbäck L, et al. Body mass index, asthma and allergic rhinoconjunctivitis in Swedish conscripts-a national cohort study over three decades. Respir Med. 2005
  • Olafsdottir IS, et al. C reactive protein levels are increased in non-allergic but not allergic asthma: a multicentre epidemiological study. Thorax. 2005
  • Hancox RJ, et al. Sex differences in the relation between body mass index and asthma and atopy in a birth cohort. Am J Respir Crit Care Med. 2005
  • Oddy WH, et al. Breastfeeding, body mass index, and asthma and atopy in children. Adv Exp Med Biol. 2004
  • Oddy WH, et al. The relation of breastfeeding and body mass index to asthma and atopy in children: a prospective cohort study to age 6 years. Am J Public Health. 2004
  • Guler N, et al. Leptin: does it have any role in childhood asthma? J Allergy Clin Immunol. 2004
  • Chng SY, et al. Snoring and atopic disease: a strong association. Pediatr Pulmonol. 2004
  • Tantisira KG, et al. Association of body mass with pulmonary function in the Childhood Asthma Management Program (CAMP). Thorax. 2003
  • Schachter LM, et al.Asthma and atopy in overweight children.  Thorax. 2003
  • Chinn S, et al.Obesity and asthma: evidence for and against a causal relation.  J Asthma. 2003
  • Huovinen E, et al. Factors associated to lifestyle and risk of adult onset asthma. Respir Med. 2003
  • Xu B, et al.Body build from birth to adulthood and risk of asthma. Eur J Public Health. 2002
  • Jang AS, et al. High body mass index is associated with wheezing among older adults living in high-altitude area in Korea. J Korean Med Sci. 2002
  • Jarvis D, et al. Association of body mass index with respiratory symptoms and atopy: results from the European Community Respiratory Health Survey. Clin Exp Allergy. 2002
  • von Mutius E, et al.Relation of body mass index to asthma and atopy in children: the National Health and Nutrition Examination Study III. Thorax. 2001
  • Schachter LM, et al. Obesity is a risk for asthma and wheeze but not airway hyperresponsiveness. Thorax. 2001
  • Huang SL, et al. Association between body mass index and allergy in teenage girls in Taiwan. Clin Exp Allergy. 1999

 

Supported by

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/ htpp://growupclinic.com GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021)  5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II  MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777 http://growupclinic.com  http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967   Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitaeCreating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Allergy Online Clinic Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s