Breath Holding Spell, Menangis Biru dan Alergi-Hipersensitifitas Saluran Cerna Bayi

image

Breath Holding Spell atau Menangis Biru dan Alergi-Hipersensitifitas Saluran Cerna

Orangtua kadang sempat cemas ketika mendapai bayinya bila menangis sempat napasnya terhenti dan biru sekitar bibir dan muka. Namun setelah dikonsulkan ke dokter dinyatakan tidak berbahaya. Keluhan yang dialami beberapa bayi tersebut sering disebut Breath Holding Spell. Twernyata bayi yang mengalami gangguan tersebut sering mengalami gangguan hipersensitif saluran cerna , alergi dan manifestasi nerurologis lainnya.

Hipotesis bahwa makanan tertentu atau alergen berkaitan dengan fungsi susunan saraf pusat atau otak telah berulang kali dilaporkan dalam literatur selama abad terakhir. Beberapa studi klinis telah menyoroti prevalensi yang sangat tinggi dari gangguan alergi pada pasien yang mengalami gangguan sususnan saraf pusat seperti breath holding spell, kejang, sakit kepala, migrain, epilepsi dan gangguan perlaku lainnya

Breath-holding spell

Breath-holding spell adalah keadaan menahan napas dan tidak bersuara dalam hitungan 5-10 detik, kemudian menangis keras lagi. Saat menahan napas dan henti napas tersebut seringkali disertai biru pada kulit terutama bibir bayi. Meskipun bukan yang normal keadaan seperti ini seringkali tidak berbahaya dan tidak perlu dikawatairkan. Sampai sekatang belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan ini.

Breath-holding spell tidak berbahaya dan bukan merupakan penyakit epilepsi. Serangan ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun dan menyerang ketika anak baru terbangun dari tidur. Umumnya dalam sehari bisa terjadi 1-2 kali, namun setelah si kecil berusia 4 tahun akan hilang dengan sendirinya.

Manifestasi Klinis Breath-holding spell

  • Saat menangis keras dan menahan napasnya.
  • Di sekitar mulutnya akan terlihat warna biru lalu tidak sadarkan diri.
  • Tubuhnya menjadi kaku dan beberapa kali terlihat bergerak seperti kejang.
  • Keadaan bayi akan kembali normal dalam waktu kurang dari 1 menit

Penanganan

  • Selama serangan. Anda tidak perlu panik karena serangan ini tidak berbahaya dan akan berhenti dengan sendirinya. Baringkan bayi di atas tempat tidur. Dalam posisi terlentang rata, aliran darah ke otak akan membaik dan mungkin dapat mencegah timbulnya kejang. Letakkan kompres dingin di dahinya hingga ia sadar kembali. Catat lamanya serangan dan jangan memasukan sesuatu ke dalam mulutnya.
  • Setelah serangan. Tenangkan dirinya sambil Anda memeluknya. Jangan memperlihatkan wajah panik dan ketakutan Anda pada si kecil.
  • Pencegahan trauma. Kondisi yang paling berbahaya adalah trauma pada bagian kepala. Bila saat serangan terjadi si kecil sedang berada di dekat benda-benda keras, segera baringkan dia jauh dari benda tersebut.

Meskipun tidak berbahaya, namun sebaiknya keadaan ini harus diberitahukan kepada dokter. Segera periksakan kondisi si kecil ke dokter bila serangan terjadi lebih dari satu kali dalam seminggu dan berlangsung lebih dari satu menit. Pola serangan yang berubah juga perlu Anda perhatikan.

Penulis telah mengadakan penelitian pada 35 kasus bayi dengan breathholding spell. Hanpir sebagian besar bayi mempunyai keluhan hipersensitif fungsi saluran cerna atau imaturitas saluran cerna lebih berat dibandingkan bayi yang lain. Ternyata dalam keadaan gangguan hipersensitifitas saluran cerna meningkat gangguan tersebut semakin sering dan semakin lama.

Hampir semua penderita tersebut juga mengalami hipersensitif fungsi susunan saraf pusat. Manifestasi yang menyertai adalah bayi mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku.

Meski sangat jarang dalam beberapa kasus juga disertai gangguan berbagai bentuk kejang. Berbagai bentuk Kejang tersebut seringkali tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal). Serangan kejang bukan epilepsi (SKBE) tersebut telah lama dikenal dan sering menyulitkan para pakar di bidang neurologi atau epilepsi. Istilah yang sering digunakan adalah Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau nonepileptic attack disorders. Seangan tersebut mirip epilepsi tetapi tidak disertai lutpan muatan listrik abnormal di otak atau dalam pemeriksaan EEG normal. Gangguan-gangguan tersebut dalam penatalaksanaannya sering tidak optimal. Dalam pemberian obat antiepilepsi sering tidak berespon dengan baik. SKBE diklasifikasikan menjadi fisiologik dan psikologik.

Yang Termasuk Gangguan serangan kejang Non epilepsi yang disebabkan karena gangguan fungsi sistem otak adalah : BREATH HOLDING SPELL, BENIGN PAROXYSMAL VERTIGO, NYERI PERUT BERULANG, SAKIT KEPALA DAN MIGREN BERULANG, TRANSIENT GLOBAL AMNESIA, HIPERVENTILASI, SINKOP KARDIOGENIK, SINKOP NONKARDIOGENIK, GANGGUAN PEMBULUH DARAH OTAK dan GANGGUAN GERAKAN ”MOTOR SPELL” seperti HEADBANGING, JITTERINESS, BENIGN INFANTILE MYOKLONUS, TICS, SINDROMA TOURETTES dan GERAKAN CHOREIFORM

Pada umumnya bayi dengan gangguan breathholding spell dengan gangguan saluran cerna meningkat . Gangguan saluran fungsi cerna seperti sering MUNTAH/gumoh), kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau, hitam dan berbau.  Sering “ngeden, beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering.

Biasanya disertai gangguan hipersensitifitas lainnya seperti sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul. Saluran napas bunyi grok-grok (hipersensitifitas bronkus) , kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). Disertai sering bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena satu sisi hidung buntu,

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna  karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • KETERLAMBATAN BICARA:  Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya  usia lebih 2 tahun membaik.

Bila tanda dan gejala Breath Holding Spell tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan berbagai jenis kejang tersebut diperberat oleh karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

Penyebab lain yang memperberat gangguan Breath Holding Spell tersebut adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna

DIAGNOSIS

Bila terdapat tanda dan gejala gangguan Breath Holding Spell yang berulang tidak sembuh. Bila telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli dan pemeriksaan tambahan EEG, CT Scan atau MRI tidak ditemukan penyebab pasti kelainannya, maka jangan lupa dipikirkan penyebabnya adalah hipersensitif saluran cerna yang disebabkan karena alergi makanan atau reaksi simpang makanan

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis gangguan Breath Holding Spell yang dicurigai disebabkan dan diperberat alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan Breath Holding Spell yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas saluran cerna pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila gangguan pada bayi tersebut disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan  tersebut adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Bayi
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti muntah , anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah.

Obat

  • Pengobatan gangguan Breath Holding Spell yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas saluran cerna pada anak yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan anti kejang, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani gangguan Breath Holding Spell tersebut yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas saluran cerna pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

Daftar Pustaka

  • Bhat MA, Ali W. Cyanotic breath holding spell in a neonate. A rare entity. Neurosciences (Riyadh). 2008 Apr;13(2):190-1.
  • Hirasawa K. Breath-holding spell Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2002;(37 Pt 6):394-7.
  • Breningstall GN. Breath-holding spells. Pediatr Neurol. 1996 Feb;14(2):91-7.
  • Hu YM. Breath-holding spellsyndrome of functional disorder–a study of serum ferritin and erythrocyte acetylcholinesterase. Zhonghua Shen Jing Jing Shen Ke Za Zhi. 1984 Oct;17(5):287-9.
  • Kurokawa T, Yokata K, Takashima S, Nambu Y, Hanai T. Etiology of convulsions in neonatal and infantile period. Folia Psychiatr Neurol Jpn. 1976;30(3):365-78.
  • Feingold BF. Dietary management of nystagmus. J Neural Transm. 1979;45(2):107-15.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy. J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Dzialek E. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975 Jul-Aug;9(4):469-72. Polish.
  • Fein BT, Kamin PB. Allergy, convulsive disorders and epilepsy. Ann Allergy. 1968 May;26(5):241-7.
  • Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S. Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet Pediatr Med Chir. 2004 May-Jun;26(3):196-7.
  • Frediani T, Lucarelli S,Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Allergy and childhood epilepsy: a close relationship Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E. Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7
  • Rose GA. Food sensitivity and epilepsy J R Soc Med. 1993 Feb;86(2):119
  • Crayton JW, Stone T, Stein G.Epilepsy precipitated by food sensitivity: report of a case with double-blind placebo-controlled assessment. Clin Electroencephalogr. 1981.
  • Bardella M T, Molteni N, Prampolini L. et al Need for follow up in coeliac disease. Arch Dis Child 1994. 70211–213.
  • Hall K. Allergy of the nervous system : a review Ann Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
  • Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
  • Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
  • Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
  • William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
  • Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
  • Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14
  • Levy Y, et al. Show all Journal Nutrition. 2011 Mar;27(3):380-2. The modified Atkins diet for intractable epilepsy may be associated with late-onset egg-induced anaphylactic reaction: a case report. Nutrition. 2011 May;27(5):615-6.
  • Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases. Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E.Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7.
  • Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet. Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S.Pediatr Med Chir. 2004 May-Jun;26(3):196-7.
  • Allergy and childhood epilepsy: a close relationship? Frediani T, Lucarelli S, Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Magnetoencephalographic and electroencephalographic evaluation in patients with cryptogenetic partial epilepsy. Verrotti A, Pizzella V, Madonna L, Franciotti R, Trotta D, Morgese G, Chiarelli F, Romani GL. Neurophysiol Clin. 2003 Sep;33(4):174-9.
  • Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S. Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet Pediatr Med Chir.2004 May-Jun;26(3):196-7
  • Frediani T, Lucarelli S,Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Allergy and childhood epilepsy: a close relationship Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E. Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7
  • Rose GA. Food sensitivity and epilepsy J R Soc Med. 1993 Feb;86(2):119
  • Epilepsy precipitated by food sensitivity: report of a case with double-blind placebo-controlled assessment. Clin Electroencephalogr. 1981
  • Dzialek E. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975
  • Ida Anjomshoaa,a Margaret E. Cooper,b and Alexandre R. Vieir. Caries is Associated with Asthma and Epilepsy. Eur J Dent. 2009 October; 3(4): 297–303.

 

.

www.growupclinic.com

Supported By:

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s