Kolik Bayi, Nyeri Perut dan Alergi-Hipersensitifitas Makanan

Kolik Bayi, Nyeri Perut dan Alergi-Hipersensitifitas Makanan

Audi anak usia 5 tahun, sering mengeluh  nyeri perut. Ternyata saat bayi Audi juga sering mengalami keluhan kolik atau malam sering rewel, menjerit dan menangis saat usia di bawah 3 bulan. Keluhan kolik pada bayi ternyata berkelanjutan keluhan nyeri perut saat usia bertambah. Untuk keluhan nyeri perut, awalnya orangtua menganggap karena pura-pura. Karena keluhan tersebut hilang timbul secara cepat tanpa pengobatan. Gejala tersebut sudah dikonsultasikan pada beberapa dokter anak, dengan jawaban yang berbeda semuanya. Setelah dilakukan pemeriksaan EMG dan USGpun ternyata dalam keadaan normal. Dokter hanya mengatakan oh anak ibu hanya kekurangan Calsium dan mungkin juga karena stres. Benarkah karena kurang Kalsium padahal saat itu tidak dilakukan pemeriksaan elektrolit Kalsium. Benarkah karena stres ? Saat dikonsultasikan ke dokter anak lainnya, ternyata anak tersebut mengalami gangguan alergi gastrointestinal. Saat dilakukan penghindaran makanan tertentu ternyata gangguan tersebut menghilang. Benarkah alergi makanan berperanan sebagai penyebab ? Berbahayakah ?

Gangguan saluran cerna berulang seperti muntah, diare, nyeri perut, sulit BAB merupakan gejala penyakit yang sering dikeluhkan pada penderita anak yang melakukan rawat jalan. Gangguan fungsi saluran cerna berupa kolik dan nyeri perut meskipun tidak berbahaya tetapi merupakan gangguan yang sangat mengganggu.  Gangguan fungsional tersebut biasanya bersifat jangka panjang akan hilang timbul munculnya kadang sulit dideteksi penyebabnya.

Hingga saat ini ganggguan tersebut belum banyak terungkap jelas penyebabnya. Sehingga banyak kontroversi timbul dalam menyikapi gangguan ini.  Namun tampakmya misteri tersebut sudah mulai terkuak. Ternyata penderita alergi khususnya saluran cerna sering berkaitan dengan keluhan kolik dan nyeri perut pada anak. Banyak ahli berpendapat bahwa gangguan ini diduga penyebabnya adalah imaturitas (ketidakmatangan) saluran cerna, sehingga dengan pertambahan usia gangguan tersebut akan berkurang.

Banyak penelitian menunjukkan penyakit alergi tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam  kasus tersebut. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali, terutama saluran cerna.  Gangguan organ tubuh seperti saluran cerna sering kurang perhatian sebagai target organ reaksi yang ditimbulkan dari alergi makanan. Selama ini yang dianggap sebagai target organ adalah kulit, asma dan hidung.

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah saluran cerna. Gejala gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan adalah muntah, diare, konstipasi, kolik, nyeri perut, sariawan dan sebagainya.

ALERGI MAKANAN DAN IMATURITAS SALURAN CERNA

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya  alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara  menunjukkan  penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC  beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada   kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat  30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari  9 juta orang

Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis.

Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.

Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun.         

MANIFESTASI KLINIS KOLIK DAN NYERI PERUT   

  • Kolik adalah kondisi di mana bayi yang sehat menangis terus-menerus tanpa ada penyebab pasti. Selama bertahun-tahun terjadi perdebatan di dunia medis tentang penyebab kolik. Yang paling umum adalah teori perut kembung/gastrointestinal. Penelitian juga menyebutkan, rata-rata 1 dari 5 bayi menderita kolik. Ciri-ciri kolik, menangis 3 jam sehari, selama 3 hari dalam seminggu, dan lebih dari 3 minggu berturut-turut (atau, dengan kata lain, menangis tanpa henti!), terutama di malam hari. Sering susah buang angin, sampai muka merah padam, sering gumoh bahkan sampai muntah, pencernaan tampak bermasalah. Perut kembung kalau ditekan, tidur juga gelisah.
  • Gangguan kolik atau nyeru perut bisa timbul dalam derajat ringan sampai berat. Pada keadaan ringan biasanya ditandai bayi sering rewel, sering minta minum padahal bayi tidak haus. Pada keadaan ini bila dipaksa minum bisa timbul muntah karena perut sudah penuh. Pada keadaan berat biasanya ditandai seperti kesakitan, menjerit atau menangis terus menerus tanpa sebab selama lebih 30 menit. Gangguan ini biasanya lebih sering terjadi pada malam. Gangguan inilah yang mengakibatkan bayi sering tidak bisa tidur malam hari dan siang hari jam tidurnya sangat panjang. Gangguan kolik diduga karena perut bayi mengalami nyeri dan sakit. Penelitian yang dilakukan penulis, bayi yang mempunyai gejala kolik saat usia 2 hingga 7 tahun beresiko terjadi keluhan sakit perut yang berulang. Pada penderita kolik beresiko terjadi gangguan nyeri perut saat timbul demam.
  • Penderita kolik pada bayi biasanya pada usia besar sangat berpotensi terjadi keluhan  nyeri perut berulang. Kadang nyeri perut ini seperti rasa buang air besar tetapi saat di kloset anak tidak jadi buang air besar. Pada anak yang belum bisa bicara atau mengungkapkan keluhan biasanya ditandai dengan sering memegang perut. Nyeri biasanya bersifat hilang timbul dan berlangsung sebentar. Seringkali keluhan ini dianggap anak pura-pura sakit karena keluhan berlangsung sebentar dan hilang timbul. Gangguan ini juga ditandai dengan posisi tidur ”nungging” saat malam atau pagi hari. Posisi tersebut adalah posisi alamiah anak untuk mengatasi rasa tidak nyaman di perutnya.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

Manifestasi klinis lain yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.

  • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus). Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir saat usia 03 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. disertai kelenjar thimus membesar (TRDN (Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
  • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi.
  • Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
  • Berat Badan Berlebihan atau kurang. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Saluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan. Pada bayi berusia di atas 6 bulan dengan keluhan sering mual, BAB ngeden atau sulit, BAB > 3 kali seringkali mengakibatkan kesulitan makan atau makan hanya sedikit yang mengakibatkan gangguan kenaikkan berat badan dan sering mengalami daya tahan tubuh menurun sejak usia 6 bulan. Pada usia sebelum 6 bulan kenaikkan pesat tetapi setelah usia 6 bulan kenaikkan relatif datar. Pada penderita hipersensitifitas non alergi (non atopi) biasa nya ghangguan berat badan dan sulit makan lebih tidak ringan dan timbul sejak usia sebelum 6 bulan tetapi setelah 6 bulan lebih buruk

PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
  • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR: KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik. GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN: Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Memperberat ADHD dab Autis. Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). Tetapi alergi bukan penyebab Autis tetapi hanya memperberat. Penderita alergi dengan otak yang normal atau tidak punya bakat Autis tidak akan pernah menjadi Autis.
Gejala alergi pada bayi selain makanan justru paling sering seringkali diperberat saat sakit atau terjadi oleh infeksi  berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus ringan ini lebih sulit dikenali. Biasanya hanya berupa badan sumer teraba hangat hanya di kepala, telapak tangan dan badan bila diukur suhu normal. Biasanya disertai bersin, batuk sekali-sekali dan pada anak bayi tertentu nafas bunyi grok-grokFlu pada bayi jarang sekali menimbulkan hidung meler biasanya hanya basah sedikit di sekitar hidung atau batuk sekali-sekali karena refleks batuk pada bayi basih belum sempurna.  Bahkan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi.Pada keadaan sakit seperti itu biasanya ada kontak yang sakit flu, demam, batuk atau infeksi virus ringan lainnya di dalam di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan yang dialami oleh penderita dewasa berupa badan ngilu, terasa pegal,nyeri tenggorokan atau kadang disertai  sakit kepala. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap “gejala mau flu tidak jadi”, masuk angin, kurang tidur, panas dalam atau kecapekan

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan,  terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. Pada kasus seperti ini biasanya berat badan mulai tidak baik saat usia 4-6 bulan saat diberi susu tambahan atau makanan tambahan baru.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS, biasanya sering terjadi pada bayi yang pada malam hari sering minta minum susu karena rewel, selama ini hal tersebut dianggap kehausan atau minum susu padahal ada yang tidak nyaman (biasanya di saluran cerna, coba perhatikan gejala gangguan saluran cerna pada bayi alergi)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Pada bayi pemberian ASI ekslusif seharusnya sebelum usia 6 bulan tidak akan mengalami sakit batuk, pilek atau diare tetap[i pada kasus ini beberapa kali mengalaminya. Biasanya sering terjadi infeksi semakin lebih mudah tertular setelah usia 6 bulan.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA

Kolik Pada Bayi, Nyeri Perut, Alergi dan Infeksi Virus

  • Gangguan fungsional saluran cerna berupa kolik pada bayi atau nyeri perut pada anak terebut akan berlangsung lama dan keluhan berlangsung hilang timbul. Selain karena alergi makanan gangguan tersebut dapat juga diperberat atau dipicu karena adanya infeksi virus.  Pada bayi dan anak adalah saat anak terkena infeksi saluran napas atas seperti nafas bunyi grok-grok (hipersekresi bronkus), bersin, batuk ringan, badan hangat teraba di tangan atau kepala tetapi saat diukur suhu normal, muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna. Biasanya disertai manifestasi kulit kemerahan (bruntusan,rash, seperti biang keringat di dahi, kulit merah di punggung dan dada yang mengelupas saat penyembuhan dan gangguan terakhir ini sering dikira karena terkena minyak telon atau obat gosok lainnya). Infeksi ringan yang biasanya disebabkan karena infeks virus ini seringkali diabaikan atau tidal terdeteksi oleh para klinisi karena gangguannya sangat ringan. Hal inilah yang sering salah diagnosis atau overdiagnosis nyeri perut dianggap karena alergi susu sapi padahal sebelumnya minum susu sapi sudah 2-6 bulan tidak mengalami gangguan apapun.  Alasan klinisi tentang gejala yang timbul baru terjadi kemudian itu dianggap karena  sensitisasi  butuh waktu juga tidak benar. Karena, untuk sensitisasi tidak perlu waktu yang demikian lama, dan biasanya bayi sudah tersensitisasi susu sapi sejak usia dalam kehamilan. Banyak kasus pada penderita tersebut setelah dilakukan provokasi atau dicoba susu sapi ternyata memang tidak mengalami gangguan sedikitpun
  • Pada keadaan infeksi virus inilah biasanya kolik atau nyeri perut berlangsung hebat.  Sehingga kadangkala gangguan fungsional ini sulit dibedakan dengan kelainan radang usus buntu. Bila tidak cermat kadangkala sering terjadi ”overdiagnosis” dan ”overtreatment” gangguan usus buntu artinya belum tentu mengalami usus buntu tetapi didiagnosis dan dioperasi sebagai usus buntu. Sehingga pada penderita dengan riwayat kolik dan sering nyeri perut apabila divonis usus buntu bila diagnosis belum jelas sebaiknya melakukan pendapat kedua atau ”second opinion” segera ke dokter lainnya.

KOMPLIKASI

  • Bila terjadi gangguan saluran cerna, komplikasi yang sering terjadi adalah mudah sakit (infeksi berulang) kesulitan makanan, merangsang fungsi  otak dan perilaku anak.
  • Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif  jarang terjadi.
  • Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis dan ADHD.
  • Gangguan pencernaan inilah yang bisa mengakibatkan rangsangan atau gangguan ke otak meningkat. Gangguan ke otak itu sendiri banyak menimbulkan keluhan perkembangan dan perilaku pada anak. Sehingga sekecil apapun gangguan pencernaan tersebut timbul berulang maka harus diwaspadai lebih dini. Hal itu akan diungkap selanjutnya lebih jelas.
  • Hal tersebut dapat dilihat pada tampilan klinis bayi atau anak. Saat terjadi serangan kolik dan nyeri perut maka tampak aktifitas, agresifitas dan emosionalitas bayi dan anak tampak meningkat. Hal ini dapat dilihat pada bayi timbul manifestasi bila minum tidak sabaran dan selalu menangis keras. Tampak agresifitas bayi meningkat sehingga berperilaku menggigit puting ibu sehingga sering lecet. Bayi juga akan tampak lebih aktif hal ini ditandai dengan gerakan tangan dan kaki pada bayi sangat banyak. Gejala tersebut seringkali disertai peningkatan ”head banging”, ditandai dengan kepala bayi sering mendongak atau menekuk ke atas dan mata sering melirik ke atas. Pada anak yang lebih besar ditandai dengan emosi meningkat, keras kepala, negatifisme meningkat. Aktifitas anak lebih meningkat, tidak bisa diam bergerak terus, memanjat melompat dan berlari tidak tentu arah. Begitu juga agresifitas anak meningkat ditandai dengan anak sering menggigit, memukul atau melempar barang.

DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN DAN NYERI PERUT ATAU KOLIK

Bila tanda dan gejala  nyeri perut pada anak tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin kolik pada bayi dan nyeri perut pada anak pada anak harus dicurigai disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis kolik pada bayi, nyeri perut pada anak yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab kolik dan nyeri perut tersebut harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah melakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan nyeri perut dan kolik tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan. Ternyata saat gangguan nyeri perut atau kolik berkurang juga disertai gejala agresifitas, aktifitas dan emosionalitas  juga berkurang.
  • Tes kulit alergi yang banyak dilakukan para ahli alergi untuk mencari penyebab alergi memang cukup sensitif, tetapi ternyata spesifitasnya tidak tinggi. Sehingga sering terjadi ”false negatif” artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Banyak reaksi simpang makanan karena alergi sering terjadi reaksi lambat. Pada tes kulit memang cukup sensitif pada reaksi alergi tipe cepat, tetapi reaksi tipe lambat sulit terdeteksi.
  • Sedangkan tes alergi lainnya masih sangat kontroversi dan belum terbukti secara klinis, sehingga tidak dianjurkan sebagai alat diagnosis. Tetapi ternyata pemeriksaan alergi tersebut masih banyak digunakan oleh beberapa klinisi dan praktisi medis lainnya. Pemeriksaan tersebut diantaranya adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Hair Analysis Testing in Allergy,  Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests

PENANGANAN

  • Bila nyeri perut dan kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan  kolik  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Bayi
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.

Referensi

  • Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
  • Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040.
  • Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR. Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr.1982; 101 :906 –910.
  • Machida H, Smith A, Gall D, Trevenen C, Scott RB. Allergic colitis in infancy: clinical and pathologic aspects. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :22 –26
  • Odze RD, Bines J, Leichtner AM, Goldman H, Antonioli DA. Allergic proctocolitis in infants: a prospective clinicopathologic biopsy study. Hum Pathol.1993; 24 :668 –674
  • Wilson NW, Self TW, Hamburger RN. Severe cow’s milk induced colitis in an exclusively breast-fed neonate. Case report and clinical review of cow’s milk allergy. Clin Pediatr (Phila).1990; 29 :77 –80
  • Pumberger W, Pomberger G, Geissler W. Proctocolitis in breast fed infants: a contribution to differential diagnosis of haematochezia in early childhood. Postgrad Med J.2001; 77 :252 –254
  • Anveden HL, Finkel Y, Sandstedt B, Karpe B. Proctocolitis in exclusively breast-fed infants. Eur J Pediatr.1996; 155 :464 –467
  • Pittschieler K. Cow’s milk protein-induced colitis in the breast-fed infant. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1990; 10 :548 –549
  • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744
  •  Winter HS, Antonioli DA, Fukagawa N, Marcial M, Goldman H. Allergy-related proctocolitis in infants: diagnostic usefulness of rectal biopsy. Mod Pathol.1990; 3 :5 –10
  • Goldman H, Proujansky R. Allergic proctitis and gastroenteritis in children. Clinical and mucosal biopsy features in 53 cases. Am J Surg Pathol.1986; 10 :75 –86
  • Wyllie R. Cow’s milk protein allergy and hypoallergenic formulas. Clin Pediatr (Phila).1996; 35 :497 –500
  • Kuitunen P, Visakorpi J, Savilahti E, Pelkonen P. Malabsorption syndrome with cow’s milk intolerance: clinical findings and course in 54 cases. Arch Dis Child.1975; 50 :351 –356
  • Iyngkaran N, Yadav M, Boey C, Lam K. Severity and extent of upper small bowel mucosal damage in cow’s milk protein-sensitive enteropathy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 8 :667 –674
  • Walker-Smith JA. Cow milk-sensitive enteropathy: predisposing factors and treatment. J Pediatr.1992; 121 :S111 –S115
  • Iyngkaran N, Robinson MJ, Prathap K, Sumithran E, Yadav M. Cows’ milk protein-sensitive enteropathy. Combined clinical and histological criteria for diagnosis. Arch Dis Child.1978; 53 :20 –26
  • Yssing M, Jensen H, Jarnum S. Dietary treatment of protein-losing enteropathy. Acta Paediatr Scand.1967; 56 :173 –181
  • Hauer AC, Breese EJ, Walker-Smith JA, MacDonald TT. The frequency of cells secreting interferon-gamma and interleukin-4,–5, and -10 in the blood and duodenal mucosa of children with cow’s milk hypersensitivity. Pediatr Res.1997; 42 :629 –638
  • Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, Karttunen TJ, Maki M. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr.2001; 139 :797 –803
  • Powell GK. Milk- and soy-induced enterocolitis of infancy. J Pediatr.1978; 93 :553 –560
  • Powell G. Food protein-induced enterocolitis of infancy: differential diagnosis and management. Compr Ther.1986; 12 :28 –37
  • Sicherer SH, Eigenmann PA, Sampson HA. Clinical features of food protein-induced enterocolitis syndrome. J Pediatr.1998; 133 :214 –219
  • Vandenplas Y, Edelman R, Sacre L. Chicken-induced anaphylactoid reaction and colitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :240 –241
  • Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics.2003; 111 :829 –835
  • Murray K, Christie D. Dietary protein intolerance in infants with transient methemoglobinemia and diarrhea. J Pediatr.1993; 122 :90 –92
  •  Powell GK. Enterocolitis in low-birth-weight infants associated with milk and soy protein intolerance. J Pediatr.1976; 88 :840 –844
  • Gryboski J. Gastrointestinal milk allergy in infancy. Pediatrics.1967; 40 :354 –362
  •  Lake AM. Food protein-induced colitis and gastroenteropathy in infants and children. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, eds. Food Allergy: Adverse Reactions to Foods and Food Additives. Boston, MA: Blackwell Scientific Publications; 1997:277–286
  • Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
  • Jenkins H, Pincott J, Soothill J, Milla P, Harries J. Food allergy: the major cause of infantile colitis. Arch Dis Child.1984; 59 :326 –329
  • Benlounes N, Candalh C, Matarazzo P, Dupont C, Heyman M. The time-course of milk antigen-induced TNF-alpha secretion differs according to the clinical symptoms in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :863 –869
  • Osterlund P, Jarvinen KM, Laine S, Suomalainen H. Defective tumor necrosis factor-alpha production in infants with cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol.1999; 10 :186 –190
  • Chung HL, Hwang JB, Park JJ, Kim SG. Expression of transforming growth factor beta1, transforming growth factor type I and II receptors, and TNF-alpha in the mucosa of the small intestine in infants with food protein-induced enterocolitis syndrome. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :150 –154
  • Busse P, Sampson HA, Sicherer SH. Non-resolution of infantile food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). J Allergy Clin Immunol.2000; 105 :S129 (abstr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s