Penanganan Penyakit Membran Hialin Pada Bayi Prematur

image

image

Penanganan Terkini Penyakit Membran Hialin Pada Bayi Prematur

Penyakit membran hialin (PMH) merupakan salah satu penyebab gangguan pernapasan yang sering dijumpai pada bayi prematur. Gangguan napas ini merupakan sindrom yang terdiri dari satu atau lebih gejala sebagai berikut: pernapasan cepat > 60 x/menit, retraksi dinding dada, merintih dengan atau tanpa sianosis pada udara kamar, yang memburuk dalam 48-96 jam pertama kehidupan.

PMH ditemukan pada + 50% bayi yang lahir dengan berat lahir 501-1500 g (60x/menit)
– Grunting atau napas merintih
– Retraksi dinding dada
– Kadang dijumpai sianosis (pada udara kamar)
– Perhatikan tanda prematuritas
– Kadang ditemukan hipotensi, hipotermia, edema perifer, edema paru
– Perjalanan klinis bervariasi sesuai dengan beratnya penyakit, besarnya bayi, adanya infeksi dan derajat dari pirau PDA.
– Penyakit dapat menetap atau menjadi progresif dalam 48 – 96 jam pertama.

Pemeriksaan penunjang
– Foto toraks posisi AP dan lateral, bila diperlukan serial.
Gambaran radiologis memberi gambaran penyakit membran hialin. Gambaran yang khas berupa pola retikulogranular, yang disebut dengan ground glass appearance, disertai dengan gambaran bronkus di bagian perifer paru (air bronchogram).

Terdapat 4 stadium :

– Stadium 1: pola retikulogranular
– Stadium 2: stadium1 + air bronchogram
– Stadium 3: stadium 2 + batas jantung-paru kabur
– Stadium 4: stadium 3 + white lung
Selama perawatan, diperlukan foto toraks serial dengan interval sesuai indikasi. Pada pasien dapat ditemukan pneumotoraks sekunder karena pemakaian ventilator, atau terjadi bronchopulmonary Dysplasia (BPD) setelah pemakaian ventilator jangka lama.
– Laboratorium
– Darah tepi lengkap dan kultur darah
– Bila fasilitas tersedia dapat dilakukan pemeriksaan analisis gas darah yang biasanya memberi hasil: hipoksia, asidosis metabolik, respiratorik atau kombinasi, dan saturasi oksigen yang tidak normal.
– Rasio lesitin/sfingomielin pada cairan paru (L/S ratio) < 2:1
– Shake test (tes kocok), dilakukan dengan cara pengocokan aspirat lambung, jika tak ada gelembung, risiko tinggi untuk terjadinya PMH (60 %)

Penanganan

Manajemen Umum
– Jaga jalan napas tetap bersih dan terbuka.
– Terapi oksigen sesuai dengan kondisi:
– Nasal kanul atau head box dengan kelembaban dan konsentrasi yang cukup untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri antara 50-70 mmHg.
– Jika PaO2 tidak dapat dipertahankan di atas 50 mmHg pada konsentrasi oksigen inspirasi 60% atau lebih, penggunaan NCPAP (Nasal Continuos Positive Airway Pressure) terindikasi. Penggunaan NCPAP sedini mungkin (early NCPAP) untuk stabilisasi bayi
BBLSR sejak di ruang persalinan juga direkomendasikan untuk mencegah kolaps Alveoli. Pada pemakaian nasal prong, perlu lebih hati-hati karena pemakaian yang terlalu ketat dapat merusak septum nasi.
– Ventilator mekanik digunakan pada bayi dengan HMD berat atau komplikasi yang menimbulkan apneu persisten. Indikasi rasional untuk penggunaan ventilator adalah:
– pH darah arteri <7,2
– pCO2
darah arteri 60 mmHg atau lebih
– pO2 darah arteri 50 mmHg atau kurang pada konsentrasi oksigen 70-100% dan tekanan CPAP 6-10 cmH2
O, atau
– apneu persisten

Jaga kehangatan
– Pemberian infus cairan intravena dengan dosis rumatan.
– Pemberian nutrisi bertahap, diutamakan ASI.
– Antibiotik: diberikan antibiotik dengan spektrum luas, biasanya dimulai dengan ampisilin 50mg/kg intravena tiap 12 jam dan gentamisin, untuk berat lahir <2 kg dosis 3 mg/kgBB per hari. Jika tak terbukti ada infeksi, pemberian antibiotik dihentikan.
– Analisis gas darah dilakukan berulang untuk manajemen respirasi. Tekanan parsial O2 diharapkan antara 50-70 mmHg, paCO2 diperbolehkan antara 45-60 mmHg (permissive hypercapnia). pH diharapkan tetap di atas 7,25 dengan saturasi oksigen antara 88-92%.

Manajemen Khusus

Pemberian sufaktan dilakukan bila memenuhi persyaratan, obat tersedia, dan lebih disukai bila tersedia fasilitas NICU. Syarat pemberian surfaktan adalah:
– Diberikan oleh dokter yang memiliki kualifikasi resusitasi neonatal dan tata laksana respiratorik serta mampu memberi perawatan pada bayi hingga setelah satu jam pertama stabilisasi.
– Tersedia staf (perawat atau terapis respiratorik) yang berpengalaman dalam tata laksana ventilasi bayi berat lahir rendah.
– Peralatan pemantauan (radiologi, analisis gas darah, dan pulse oximetry) harus tersedia.
– Terdapat protokol pemberian surfaktan yang disetujui oleh institusi bersangkutan.

Surfaktan

Surfaktan diberikan dalam 24 jam pertama jika bayi terbukti mengalami penyakit membran hialin, diberikan dalam bentuk dosis berulang melalui pipa endotrakea setiap 6-12 jam untuk total 2-4 dosis, tergantung jenis preparat yang dipergunakan.
Survanta (bovine survactant) diberikan dengan dosis total 4 mL/kgBB intratrakea (masing-masing 1mL/kg berat badan untuk lapangan paru depan kiri dan kanan serta paru belakang kiri dan kanan), terbagi dalam beberapa kali pemberian, biasanya 4 kali (masing-masing ¼ dosis total atau 1 ml/kg). Dosis total 4 ml/kgBB dapat diberikan dalam jangka waktu 48 jam pertama kehidupan dengan interval minimal 6 jam antar pemberian.
Bayi tidak perlu dimiringkan ke kanan atau ke kiri setelah pemberian surfaktan, karena surfaktan akan menyebar sendiri melalui pipa endotrakeal. Selama pemberian surfaktan dapat terjadi obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh viskositas obat. Efek samping dapat berupa perdarahan dan infeksi paru.

Bedah
Tindakan bedah dilakukan jika timbul komplikasi yang bersifat fatal seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, empisema subkutan.

Tindakan yang segera dilaksanakan adalah mengurangi tekanan rongga dada dengan pungsi toraks, bila gagal dilakukan drainase.

Suportif
Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialis lainnya, dll)
Bila terjadi apneu berulang atau perlu bantuan ventilator maka harus dirujuk ke Rumah Sakit dengan fasilitas Pelayanan Neonatal Level III yang tersedia fasilitas NICU.

Langkah Preventif PMH
– Mencegah persalinan prematur
– Pemberian terapi kortikosteroid antenal pada ibu dengan ancaman persalinan prematur
– Mengelola ibu DM dengan baik.

Pemantauan Terapi
– Efektifitas terapi dipantau dengan memperhatikan perubahan gejala klinis yang terjadi.
– Setelah BKB/BBLR melewati masa krisis yaitu kebutuhan oksigen sudah terpenuhi dengan oksigen ruangan/atmosfer, suhu tubuh bayi sudah stabil diluar inkubator, bayi dapat minum sendiri /menetek, ibu dapat merawat dan mengenali tanda-tanda sakit
pada bayi dan tidak ada komplikasi atau penyulit maka bayi dapat berobat jalan.
– Pada BBLR, ibu diajarkan untuk melakukan perawatan metode kanguru (PMK).
– Rekomendasi pemeriksaan Retinopathy of Prematurity (ROP):
– Bayi dengan berat lahir ≤1500 g atau usia gestasi ≤34 minngu
– Pemeriksaan pada usia 4 minggu atau pada usia koreksi 32-33 minggu

Tumbuh kembang
– Bayi yang menderita gangguan napas dan berhasil hidup tanpa komplikasi maka proses tumbuh kembang anak selanjutnya tidak mengalami gangguan.
– Apabila timbul komplikasi (hipoksia serebri, gagal ginjal, keracunan O2
, epilepsi, komplikasi palsi serebral, dll) maka tumbuh kembang anak tersebut akan mengalami gangguan dari yang ringan sampai yang berat termasuk gangguan penglihatan, sehingga diperlukan pemantauan berkala pada masa balita.

Referensi

Tammela OKT. Hyaline Membrane Disease. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Tuttle
D, penyunting. Neonatology, management, procedures, on-call problems, diseases, and drugs. Edisi
keenam. New York: McGraw-Hill; 2004. h.477-8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s